-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

Watashi, ni-banme no kanojo de īkara Vol 1 Episode 4 part 7 Indonesia

Episode 4
Surat Tanpa Nama



Tidak ada seorang pun di perpustakaan sepulang sekolah.

Pacar Tachibana-san tidak masuk sekolah, jadi sesi belajar sepasang kekasih ditiadakan hari ini.

Aku menemukan komentar di buku harian Tosa dari rak buku dan menyebarkannya di atas meja. Aku harus mengejar ketertinggalan beberapa hari terakhir ini. Aku menuliskan konjugasi kata kerja bantu di buku teks. Kemudian seseorang masuk.

Itu Hayasaka-san.

Dia terlihat sedikit malu dan duduk di sebelahku.

“Di situ, tempat pacar Tachibana-san selalu duduk, ‘kan?”

“Dilihat dari gambar di medsosnya, kurasa iya.”

“Kebetulan?”

“Karena tidak ada update di medsosnya hari ini, aku memutuskan untuk duduk di sini dan merasakan rasa frustrasiku sebagai gantinya. Membayangkan si pacar selalu melihat raut wajah Tachibana-san di sini. Hingga batasnya.”

“Jangan berlebihan.”

Hayasaka-san tertawa. Dia tampak dalam suasana hati yang baik.

Kemudian, setelah sedikit ragu, dia menempelkan tubuhnya padaku dengan gerakan menabrak.

“Bukankah kau tidak melakukan hal-hal aneh lagi di sekolah?”

“Ini semua, salahmu Kirishima-kun.”

“Salahku?”

“Curang banget, kebaikanmu itu.”

“Dia jauh lebih banyak bicara daripada yang kukira.”

“Bukan, aku cuma sedikit memaksanya untuk bicara. Sedikit saja, kok.”

Hayasaka-san tersenyum. Yamanaka-kun mungkin merasa ketakutan.

“Hayasaka-san, mulai sekarang, kalau kamu punya masalah, katakan padaku.”

“Un. Tapi tanpa kuberitahu pun, Kirishima-kun akan membantumu, ‘kan?”

Ehehe, Hayasaka-san menempelkan wajahnya ke dadaku.

“Tunggu Hayasaka-san, bagaimana jika seseorang melihat kita?”

“Ini mendebarkan, ‘kan?”

Gawat. Dia sudah menyalakan tombol gadis nakal sepenuhnya.

“Maaf ya aku bertanya padamu tempo hari seperti, [Aku pacar Kirishima-kun, ‘kan?]. Itu pasti berat, ‘kan?”

“Tidak juga kok.”

“Aku tak akan mengatakan sesuatu yang berat lagi. Aku akan menjadi pacar yang lebih baik.”

“Sekarang pun kamu pacar yang baik.”

“Belum, habis aku selalu membuatmu khawatir. Hei, Kirishima-kun, kamu tidak perlu sekhawatir itu. Lakukan saja apapun yang kamu inginkan. Setiap kali kamu merasa sedih karena Tachibana-san dekat dengan pacarnya, kamu bisa menggunakanku sebagai gantinya.”

“Aku merasa sangat buruk untuk itu, tidak mungkin aku bisa melakukannya.”

“Gak papa kok. Kan aku pacar Kirishima-kun. Aku ingin melakukan apa yang Kirishima-kun inginkan. Aku ingin menjadi pacar yang diinginkan Kirishima-kun. Aku ingin melakukan apa saja untukmu.”

“Hayasaka-san?”

“Hei, Tachibana-san mungkin dipeluk oleh pacarnya di kursi ini, tahu?”

Aku membayangkan adegan itu. Hatiku sedikit sakit.

“Gak papa kok, ngelakuin itu padaku. Gak papa kok kalau kamu ngelakuin sesuatu yang lebih dari apa yang pacar Tachibana-san lakuin padanya. Aku senang kamu menyayangiku, tapi aku lebih senang kau menyentuhku, meskipun sedikit sakit, daripada sesuatu yang diluar jangkauan. Itulah yang kupikirkan. Itulah yang kupikirkan karena dirimu, Kirishima-kun.”

Hayasaka-san sepertinya merasa sangat senang karena aku telah memecahkan masalah ini.

Emosi “cinta” meluap dari ekspresi wajah dan gerak tubuhnya. Sangat jarang dicintai tanpa syarat seperti itu oleh seseorang. Hingga tampak seperti keajaiban kecil.

“Kirishima-kun, Kirishima-kun, Kirishima-kun, Kirishima-kun, Kirishima-kun, Kirishima-kun.”

Tapi bukankah itu jelas terlalu banyak peningkatan perasaan?

Hayasaka-san perlahan meraih pergelangan tanganku.

“Aku ingin Kirishima-kun menyentuhku.”

Dia hendak membawa tanganku ke dadanya, jadi aku buru-buru untuk menghentikannya.

“Hayasaka-san, tunggu sebentar.”

“Kamu gak mau menyentuhku?”

“Aku tak tahu harus berkata apa, bukan begitu, aku bingung sekali sekarang. Tempo hari juga, hal seperti ini pernah terjadi...”

“Aku tidak melakukan ini karena aku sedang ingin melakukannya.”

Kata Hayasaka-san.

“Aku tahu aku nomor dua, tapi aku ingin menjadi pacar yang pantas.”

“Hayasaka-san adalah pacar yang pantas.”

“Tapi kan, sebagai sepasang kekasih, orang-orang akan melakukan lebih banyak hal lagi, ‘kan?”

“Iya sih. Tapi, coba pikirkan baik-baik. Kita memang sepasang kekasih, tapi kita sadar bahwa kita nomor dua. Adanya nomor satu kau pun sama, Hayasaka-san.”

“Un. Tapi, meski nomor dua, jika itu Kirishima-kun, aku sama sekali gak masalah. Begitulah, pikirku. Karena itu, aku ingin kau menyentuhku. Aku ingin Kirishima-kun melangkah lebih jauh.”

Sebelum aku menyadarinya, Hayasaka-san bahkan sudah membuka kancing kedua di blusnya.

“Aku gak papa kok jadi yang kedua, aku ingin menjadi pacar yang pantas.”

“Baiklah, tapi bagaimanapun juga, ini perpustakaan. Ada banyak jendela.”

“Jika terlihat, maka biarlah itu terjadi.”

Ayo kita tunjukan pada mereka, kata Hayasaka-san.

“Jika itu terjadi, itu akan merusak citra Hayasaka-san dan menyebabkan keributan besar.”

“Biarkan saja. Aku gak peduli dengan orang-orang yang memaksakan citra itu padaku. Dari awal aku tidak menyukainya. Anak laki-laki hanya ingin melakukan hal semacam itu denganku. Gadis-gadis hanya ingin memilikiku sebagai aksesori cantik disamping mereka.”

“Hayasaka-san?”

“Mereka semua mencoba memasukkanku ke dalam citra mereka. Lugu, baik hati, apaan itu? Tapi Kirishima-kun berbeda. Kirishima-kun berbeda.”

“Kamu harus sedikit tenang.”

“Kirishima-kun memperhatikanku. Peduli padaku, dan membantuku. Jadi aku ingin melakukan sesuatu yang lebih istimewa untukmu.”

“Dengerin aku, Hayasaka-san.”

“Aku harap yang lain menghilang saja. Sudah cukup dengan aku dan Kirishima-kun saja.”

Hayasaka-san, dia benar-benar sudah menyalakan tombol yang aneh. Aku bertanya-tanya apakah itu reaksi karena terlalu ditekan.

Tapi entah kenapa, semakin kata-kata dan tindakannya berantakan, semakin indah ekspresi Hayasaka-san.

Ada daya tarik yang tidak sehat di matanya yang kosong.

“Kirishima-kun, kamu akan menerimaku apa adanya, ‘kan? Kau akan menerimaku, ‘kan? Inilah aku. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhku. Tapi, aku ingin Kirishima-kun menyentuhku. Ayo melangkah lebih jauh.”

Tangan yang digenggam oleh Hayasaka-san diarahkan ke dadanya.

Aku benar-benar kewalahan oleh aura Hayasaka-san, dan tidak bisa mengatakan apa-apa.

“Aku mencintaimu, Kirishima-kun.”

Dan tepat sebelum tanganku menyentuh dada Hayasaka-san.

“Eh?”

Aku bahkan lebih terkejut. Itu karena Hayasaka-san mencoba memasukkan tangannya ke dalam blusnya.

Kain renda bisa dilihat dari dadanya.

Terlebih lagi, dia mencoba meletakkan ujung jariku di celah antara kain renda itu dan kulit putihnya yang berlekuk.

“Hayasaka-san!”

Ini bukan masalah menyentuh atau tidak menyentuh. Dia mencoba untuk melangkah lebih jauh.

“Aku ingin memberikannya padamu, Kirishima-kun. Aku tidak akan pernah memberikannya pada orang lain. Tapi aku akan memberikan semuanya pada Kirishima-kun. Aku ingin kamu mengambilnya, kamu mau, ‘kan? Hei, ambil dong.”

Tekanan yang tidak membiarkanku menjawab. Aku mengerti satu kebenaran.

Ketika seorang gadis menjadi serius, seorang pria mungkin tidak akan bisa menolak apa pun.

Dan begitu saja, ujung jariku masuk ke dalam celah dan menyentuh sesuatu yang lembut.

Seseorang hentikan ini. Ketika aku berpikir begitu.

Suara langkah kaki datang dari koridor. Cahaya kembali ke mata kosong Hayasaka-san.

Pada menit terakhir, dia tampaknya mendapatkan kembali rasionalitasnya. Gadis baik Hayasaka-san belum hilang.

Kami buru-buru memisahkan tubuh kami, dan pada saat yang sama pintu terbuka. Suara langkah kaki yang keras. Dan yang masuk——.

“Lah, Ketua.”

Adalah Tachibana-san.

“Kalian sedang apa?”

Dengan ekspresi bingung di wajahnya, dia bergantian menatapku dan Hayasaka-san dan memiringkan kepalanya.

Hayasaka-san yang langsung menjawab.

“A-Aku hanya minta diajarin kok!”

Dia bertindak sangat mencurigakan, tapi dia benar-benar kembali ke Hayasaka-san yang biasa.

“Tachibana-san, kurasa kau harus minta Kirishima-kun untuk mengajarimu juga! Penjelasannya mudah dimengerti soalnya!”

Hanya dengan itu, dia buru-buru mengancingkan blusnya dan meninggalkan perpustakaan.

Sebelum pergi, Hayasaka-san mengatupkan kedua tangannya di belakang Tachibana-san, seolah-olah mengatakan, “Maaf untuk yang tadi ya,”. Kemudian dia mengangkat dua jarinya dengan ekspresi bermasalah di wajahnya.

[Aku gak papa kok jadi pacar kedua.]

Pesan seperti itu.

Dengan demikian, waktu badai berlalu, lalu aku dan Tachibana-san masih ada ditempat.

“Kenapa kamu datang ke sini, Tachibana-san?” Aku bertanya.

“Belajar.”

Tachibana-san menjawab dengan ekspresi tenang.

Lalu dia duduk di sebelahku dengan wajah kosong.

“Aku biasanya belajar di sini.”

Dengan itu, dia menyebarkan alat belajarnya dan dalam diam menulis dengan pensil mekaniknya.

Aku juga mulai mengerjakan tugas sastra klasikku.

Aku lega karena kehidupan sehari-hariku yang damai kembali. Dan begitu saja, waktu berlalu.

Hayasaka-san seperti itu, mungkin karena masalah emosional sesaat.

Perasaanku juga mulai tenang. Aku berharap tidak akan terjadi apa-apa seperti ini. Namun.

Tachibana-san mencengkeram kerahku ketika dia selesai mengerjakan dua soal matematika.

“Kenapa kau mengajari Hayasaka-san?”

Dengan nada yang sedikit, marah.

“Padahal kau menolakku kalau kuminta.”

(Tln: Anjir yandere, tapi masuk akal juga dia marah. Dia selalu ditolak kalau minta ngelakuin sesuatu. Tapi beda banget kasusnya)

Related Posts

Related Posts

3 comments

  1. Aghhh sumpah aing binggung,nih cewe yang satu punya yang nomor 1,yang satu lagi udh punya tunangan,aing mau seneng mc nya dideketin gmna lagian cmn kaya pelampiasan bangke lah

    ReplyDelete
  2. Chapter ini the best, hot bget bah 🥵

    ~Fadoridesu

    ReplyDelete