-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

Seirei Gensouki Volume 17 Selingan 1 Part 2 Indonesia

Selingan
Dialog Antara Penguasa dan Saint


◇◇◇


Kemudian, belasan menit kemudian.

Reiss pergi ke ruang audiensi di Kastil Kekaisaran Proxia. Kaisar Nodor Proxia duduk di singgasana di atas panggung di ujung ambang pintu, melihat tamu di lorong di bawah tangga dengan angkuh.

Saat ini, hanya mereka berdua dan Reiss yang ada di ruangan itu. Namun, Reiss bersembunyi dari posisi pengunjung sehingga dia tidak bisa melihatnya, dan dia memutuskan untuk menonton.

(Ini sungguh pengunjung yang sangat tidak biasa, bukan?)

Melihat pengunjung itu, Reiss tersenyum geli. Pengunjung itu adalah seorang wanita berambut hitam mengenakan gaun yang tampak seperti seragam biarawan. Biasanya, dia tidak akan diizinkan untuk menunjukan wajahnya sampai Nidor memberinya izin, tapi——,

“Benar-benar negara yang sangat tidak ramah yang bahkan tidak menyediakan kursi untuk pengunjungnya. Yang namanya Kekaisaran Proxia ini.”

Wanita itu tidak menunjukkan rasa hormat kepada Nidor, tetapi malah berbicara dengan perasaan tidak senang yang kuat. Bahasanya sopan, tapi cukup provokatif. Inilah yang dimaksud dengan merendahkan.

“Fuhaha, sungguh tidak masuk akal bagimu untuk berbicara tentang sopan santun ketika kau sendiri berani menerobos masuk tanpa janji audiensi.”

Nidor tampaknya tidak peduli dengan sikap dan kata-kata provokatif wanita itu, dan menertawakannya dalam suasana hati yang baik.

(Sepertinya dia menikmatinya)

Reiss yang sudah mengenal Nidor cukup lama, membaca pikirannya. Nidor biasanya mengurung diri di dalam kastil dan meratapi kebosanannya, tetapi percakapan dengan seseorang yang agresif yang tiba-tiba menerobos masuk mungkin adalah hiburan terbaik yang bisa dia dapatkan.

“Kukira kaisar Kekaisaran Proxia adalah orang yang toleran, karena bertemu dengan orang asing yang baru saja menerobos masuk, tapi... ternyata tidak seperti itu. Kau hanyalah pria kecil yang tidak memiliki nyali untuk menghadapi lawan di ketinggian yang sama.”

Wanita itu berbicara dengan sedih, dan mencoba memprovokasi Nidor secara khusus.

“Bukan berarti aku tidak mengenalmu sama sekali. Kau si Saint itu, bukan?”

Nidor tersenyum untuk menunjukkan ketenangan seorang kaisar, dan tanpa termakan provokasi wanita itu, dia memberitahukan identitasnya. Benar, wanita itu adalah orang yang dikenal sebagai Saint Erika.

“Ara, jadi kau mengenalku?”

Mata Erika melebar karena terkejut.

“Aku pernah mendengar bahwa kau sudah menghancurkan kerajaan pengikut dari kekaisaranku di beberapa daerah terpencil dan mendirikan negara baru.”

“Cepat juga kau mendengarnya, ya.”

“Karena itu adalah sedikit perubahan menarik dalam situasi internasional yang membosankan. Itu melekat dalam ingatanku. Apa tujuanmu? Kau cukup aneh juga, ya, untuk datang sendiri bertemu dengan penguasa dari kerajaan yang kau hancurkan dalam sebuah revolusi.”

Nidor tertawa kecil dan bertanya apa tujuannya.

“Aku hanya datang untuk mengamati negara ini dan berdialog dengan penguasa kekaisaran.”

Erika menjawab dengan nada suara yang sangat tenang dan bermartabat.

“Untuk mengamati. Mengenai apa, tepatnya?”

“Aku di sini untuk mengamati bagaimana rakyat di negara ini hidup dan apakah kamu, penguasa negara ini, menindas mereka atau tidak.”

“Kuh, kuhahahahhaha.”

“Apanya yang aneh?”

“Seorang wanita yang tampak mencurigakan yang mengaku sebagai Saint tiba-tiba menerobos masuk dan memberi tahu kaisar sendiri bahwa dia ada di sini untuk melihat apakah dia menindas rakyatnya atau tidak. Akan aneh untuk tidak tertawa. Aku tidak berpikir itu pekerjaan orang waras. Tapi...”

Nodor menatap Erika dengan tajam sambil mencibir.

“Aku cukup waras, kau tahu?”

Erika juga memiringkan kepalanya dengan heran.

“...Yah, baiklah. Jadi, bagaimana kekaisaran ini terlihat di mata Saint?”

“Yang kulihat itu bukan kekaisarannya, tetapi orang-orang yang tinggal di sana. Dengan kata lain, rakyat dan sang penguasa.”

“Menurutku keduanya sama saja. Jadi?”

“Aku akan memberimu perintah langsung. Tinggalkan singgasana sekarang, dan serahkan kekaisaran ini kepada rakyat. Ini akan mengarah pada keselamatan rakyat.”

Erika memberikan tatapan dingin pada Nidor, yang sedang duduk di singgasananya.

“Aku tidak percaya bahwa menyeret penguasa akan mengarah pada keselamatan rakyat. Bagaimana jika aku menolak?”

“Aku akan membunuhmu.”

(Tln: ‘mu’ di sana orang yang berdosa)

Kata Erika tanpa ragu-ragu.

“Hō, kalau begitu, kenapa tidak mencobanya di sini dan sekarang?”

Siapa takut, mulut Nidor terdistrosi menjadi seringai agresif. Dia meremas gagang pedang besarnya, yang dia bawa bahkan di ruang audiensi. Dan——,

“Tidak, sekarang belum waktunya. Karena revolusi tanpa kehendak rakyat bukanlah keselamatan. Rakyat kekaisaran ini harus belajar.”

Erika menggelengkan kepalanya datar.

“Sekarang belum waktunya, katamu? Kau pikir kau bisa lolos setelah pergi ke tempat terjauh di negara ini dan menyatakan perang terhadapku secara langsung?”

Nidor hendak berdiri dan menebasnya, sementara dia masih duduk dan terlihat akan mencabut pedangnya. Tapi——,

“Jika demikian, aku tidak keberatan melakukannya.”

Erika tidak gentar. Gada seperti tongkat emas yang indah yang muncul entah dari mana dan dia mencengkeramnya. Seolah mengatakan bahwa dia tidak takut dengan Nidor..., tidak, seolah-olah dia bahkan tidak terlihat di matanya, dia hanya balas menatapnya tanpa emosi dan mengambil posisi bertarung.

Keduanya berada dalam situasi tegang, tapi——,

“...Kupikir kau hanya seorang wanita gila yang telah memperoleh kekuatan yang tidak pantas kau dapatkan, tapi sepertinya kau bukan sekedar badut. Apakah kau semacam penyihir jahat?”

Nidor menatap wajah Erika gelisah lalu melepaskan tangannya dari gagang pedang yang dipegangnya. Dan dia menggambarkan Erika sebagai penyihir, bukan Saint. Dan——,

“Fu-Fufu. Kufufu, berani sekali kau memanggil Saint sebagai penyihir.”

Untuk pertama kalinya, Erika akhirnya menunjukkan emosi layaknya manusia. Dia tertawa sangat geli. Lalu——,

“Hō, kau memiliki ekspresi yang sangat bagus. Aku tidak berpikir itu berasal dari seorang Saint yang murni?”

Nidor juga menunjukkan dengan tatapan sukacita.

“Oya, maaf untuk ini.”

Erica menutup mulutnya dengan tangannya dan memunculkan kembali senyum sucinya.

“Fun, sudah kuduga, kau adalah seorang penyihir, singkatnya.”

“...Jika kau melihatnya seperti itu, mungkin seperti itu bagimu. Bagi seseorang yang sempat berniat bunuh diri, itu bisa dimengerti. Tidak mungkin kamu, seorang kaisar yang sombong, bisa mengerti apa artinya menjadi Saint yang menyelamatkan rakyat.”

“Memikirkan rakyat, memimpin rakyat, menyelamatkan rakyat. Aku mengerti bahwa itu adalah gambaran seorang Saint yang kau bicarakan.”

“Yah, aku senang kamu mengerti.”

“Faktanya adalah, kau tampaknya tidak memikirkan rakyat sama sekali. Kau hanya tampak seperti Saint.”

“Aku tidak yakin apa yang kau bicarakan...”

Nidor menunjukkan seakan dia bisa melihat melalui dirinya, tapi Erika memiringkan kepalanya penasaran.

“Apa kau ingin terus memainkan peran badut gila? Okelah. Jika demikian, bukankah lebih banyak nyawa rakyat akan dipertaruhkan.”

“Nyawa rakyat dipertaruhkan, ya? Aku benar-benar tidak tahu apa yang kau bicarakan.”

Erika menghela nafas lesu.

“Kau sudah berani memprovokasi kami secara terang-terangan? Asal tahu saja jika kau ingin memulai perang, aku akan menjadi lawanmu. Jika terjadi perang, tidak dapat dihindari bahwa rakyat akan mati. Aku yakin kau tidak menyadari hal itu. Kau juga pasti sudah mengambil banyak nyawa dalam revolusi yang kau mulai ketika kau mendirikan negaramu.”

“Bahkan jika itu diperlukan untuk menyelamatkan lebih banyak rakyat, itu tidak bisa diterima. Tapi, ketika terjadi perang, akulah yang akan berdiri di depan. Aku akan mencoba untuk meminimalkan korban sipil.”

“Kau sangat percaya diri. Jika demikian, tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Sebaiknya kau segera pergi.”

“Oya, apakah kau akan membiarkanku pergi begitu saja?”

“Apa kamu masih ingin tinggal di sini?”

Ketika Erika bertanya dengan rasa ingin tahu, Nidor bertanya balik, sama bingungnya.

“...Tidak.”

“Jika demikian, pergilah. Sebaiknya kau tinggalkan ruangan ini dan keluar dari gerbang kota dengan patuh.”

Nidor memberitahu dia dengan tegas bahwa hal berikutnya yang akan dia lihat adalah medan perang.

“Baiklah, aku permisi.”

Erika berbalik dan meninggalkan ruang audiensi yang terbuka. Kemudian, ketika hanya Nidor dan Reiss yang tersisa di ruangan besar itu——,

“...Tidak salah lagi kalau dia adalah pahlawan. Aku yakin tongkat emas yang dia wujudkan tadi itu adalah senjata ilahi.”

Reiss muncul dan berbicara kepada Nidor.

“Dia terang-terangan mencoba memprovokasi aku, dan dia bertindak seperti dia tidak peduli bahkan jika itu menyebabkan keributan jika semuanya berjalan mulus. Dia tampaknya sangat percaya diri dengan kekuatannya, tapi bahkan dengan pemikiran itu, dia adalah tipe wanita penghancur. Dia tampak gila, tetapi sebenarnya sangat tenang. Sepertinya wanita jahat telah menjadi pahlawan.”

Terlepas dari kata-katanya, nada suara Nidor terasa memiliki suasana yang pedih.

“...Tergantung pada seberapa besar kekuatan dari senjata ilahi yang telah dia keluarkan, tapi dia mungkin jauh lebih merepotkan daripada Ksatria Hitam jika dia membuat pergerakan besar sekarang dan menulis ulang struktur kekuatan Strahl. Karena pahlawan tidak mudah untuk dibunuh, lebih-lebih lagi...”

Reiss mendesah benar-benar kesal. Dan——,

“Sekarang setelah Lucius terbunuh, aku tidak bisa menyentuhnya untuk saat ini, jadi aku akan mengambil kesempatan ini untuk melacaknya sedikit dan mencari tahu apa yang sedang dilakukan Saint itu.”

Mengatakan itu, dia mulai berjalan ke pintu ruangan tempat Saint Erika pergi. Sementara Nidor dalam diam melihatnya berjalan pergi——,

“Ide menyelamatkan rakyat itu hampir bisa disebut gila, tapi wanita itu sepertinya memahaminya dan tetap mengucapkan kata keselamatan. Dan perilaku agresif itu. Aku penasaran apa yang sebenarnya tujuan dia dengan mendirikan sekte...”

(Tln: sekte/organisasi keagamaan)

Dia berbicara pada dirinya sendiri.

Related Posts

Related Posts

Post a Comment