-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

Watashi, ni-banme no kanojo de īkara Vol 1 Episode 7 part 7 Indonesia

Episode 7
Aku Gak Papa Kok Jadi Pacar Kedua



Penginapan memberi kami kamar untuk dua orang karena tidak ada tamu selama musim sepi.

Pembagian kamar adalah aku dan Senpai, Maki dan Yamanaka-kun, Hayasaka-san dan Tachibana-san, Sakai dan Miki-sensei.

Dengan kata lain, kamar yang Hayasaka-san suruh aku datangi adalah kamarnya dengan Tachibana-san.

Namun, Tachibana-san tidak ada di sana karena dia pergi jalan-jalan dengan Senpai.

“Hayasaka-san.”

“...Masuklah.”

Hayasaka-san, mengenakan yukata, sedang duduk sendirian di kursi tanpa kaki.

“Aku buatin teh, ya.”

Hayasaka-san menuangkan air panas dari panci dan membuatkanku teh hijau.

Aku duduk di seberang dan meminum tehku dalam diam.

“Aku merasa agak lebih tenang.”

Kata Hayasaka-san.

“Mari kita lanjutkan pembicaraan kita sebelumnya.”

“Ya.”

Aku mengangguk, dan mengatakan apa yang akan aku katakan sebelumnya.

“Aku sudah menyerah pada Tachibana-san. Jadi.”

Ayo kita menjadi pasangan yang resmi.

Begitulah seharusnya. Tachibana-san dan Senpai, aku dan Hayasaka-san. Kombinasi seperti itu.

Tapi saat aku hendak mengatakannya, Hayasaka-san memotong.

“——Itu tidak boleh.”

Nada suaranya lembut, tapi memiliki kemauan yang kuat.

“Habis itu, kamu hanya bersikap baik.”

“Tapi memang benar aku menyukaimu, Hayasaka-san.”

“Aku tahu. Tapi tidak boleh. Aku tidak mau, disukai seperti itu.”

Katanya dia memikirkan itu ketika dia kembali ke kamar.

“Jika itu Kirishima-kun yang biasa, dia belum akan menyerah. Habis Senpai dan Tachibana-san baru hanya bertunangan, dan mereka bahkan belum berpegangan tangan.”

Hayasaka-san benar. Jika dipikirkan secara rasional, ini belum saatnya untuk menyerah.

Jika aku menyerah sekarang, itu akan menjadi cinta yang dramatis tetapi narsis. Kupikir akan jauh lebih tulus untuk bersabar di sini dan menunggu kesempatan cinta berikutnya.

Tidak baik putus asa ketika masa-masa sulit.

Kebahagiaan pastilah bisa didapat dari kesabaran dan ketenangan seperti itu.

“Ini salahku, bukan?”

Kata Hayasaka-san.

“Karena aku seperti ini, jadi kamu ingin menyerah pada Tachibana-san, bukan?”

Itu benar. Karena Hayasaka-san seperti akan rusak, aku tidak bisa melihatnya lagi.

“Tapi, ini semua salah Kirishima-kun, tahu.”

“Salahku?”

“Ini salah Kirishima-kun hingga hatiku hancur. Tapi, itu bukan karena nomor dua. Bukan soal itu.”

“Lalu, apa yang salah denganku?”

“Kita akan bersama jika cinta pada pilihan pertama kita tidak menjadi kenyataan, bukan?”

“Ya.”

“Tapi Kirishima-kun, jika cintamu pada Tachibana-san tidak menjadi kenyataan, kau seperti akan hilang entah kemana.”

Itu membuatku cemas, katanya.

“Bahkan jika kamu dan aku menjadi pasangan yang resmi, sepertinya di hatimu akan selalu ada Tachibana-san.”

“Jadi itu yang kamu rasakan.”

“...Un.”

Setelah menyerah pada Tachibana-san, bagaimana aku akan menghabiskan waktuku memikirkannya, aku pun tidak tahu.

Apa yang harus dilakukan dengan cinta yang telah berakhir adalah pertanyaan sulit lainnya.

“Aku merasa seperti akan sendirian. Kirishima-kun dan Senpai, semuanya dibawa pergi oleh Tachibana-san.”

“Aku menyukaimu, Hayasaka-san.”

“Kalau begitu buatlah aku mempercayainya.”

Hayasaka-san berdiri.

Kemudian dia berjalan ke futon di atas tatami dan duduk kembali.

“Buatlah aku percaya bahwa di saat cintamu pada yang pertama tidak menjadi kenyataan, kau akan datang kepadaku. Yakinkan aku bahwa Kirishima-kun akan menjadi jaminanku jika cintaku pada yang pertama tidak menjadi kenyataan. Dengan begitu aku bisa berjuang. Aku akan bisa mengejar orang yang paling aku cintai.”

Dia merentangkan tangannya dan mendesakku untuk datang kepadanya.

Ekspresi Hayasaka-san sangat kesepian, jadi aku mendekat ke futon dan memeluknya.

Kupikir karena Hayasaka-san suka dipeluk, itu akan menenangkan perasaannya.

Tapi.

Hayasaka-san menempel padaku dan jatuh ke belakangnya sendiri.

Seakan aku mendorong Hayasaka-san ke bawah.

“Hayasaka-san?”

“Hei Kirishima-kun, kita sepasang kekasih, bukan?”

“Aa.”

“Kita sepasang kekasih yang baik, bukan?”

“Tentu saja.”

“Kalau begitu, ayo kita lakukan apa yang orang lain lakukan.”

Itu mungkin, lebih dari sekedar ciuman.

“...Aku, ingin menjadi pacar yang pantas.”

Bagian dada yukata-nya telanjang, tapi Hayasaka-san bahkan tidak mencoba memperbaikinya.

“Aku juga, terkadang bisa tidak rasional.”

“Aku ingin kamu tidak rasional. Aku ingin kamu tunjukan padaku bahwa kamu benar-benar menyukaiku.”

Aku menginginkannya.

Nomor dua itu berharga, tapi di atasnya ada nomor satu. Itu sebabnya aku membuat aturan untuk tidak lebih dari ciuman.

Tapi kalau dipikir-pikir sekarang, aku mungkin telah membuat Hayasaka-san merasa cemas karena tidak melakukannya. Inilah artinya menghadapi seorang gadis dengan serius, dan aku mungkin telah melarikan diri dari hal itu.

“Apa kamu yakin?”

“Ya.”

“Jika kita melakukan ini, sesuatu mungkin berubah secara drastis.”

“Un. Aku ini bodoh, jadi Kirishima-kun mungkin akan menjadi nomor satu.”

Kata Hayasaka-san dengan senyum bermasalah.

Memang, begitu garis itu dilewati, ada kemungkinan urutan rasa cinta akan bertukar.

Aku juga mungkin menjadi seperti itu. Kalau dipikir-pikir sekarang, aku merasa kalau aku secara tidak sadar mencoba untuk tidak melangkah ke dalam hal-hal seperti itu karena aku takut bahwa Tachibana-san tidak akan menjadi nomor satu.

“Jika itu terjadi, saat itu bolehkah aku memanjakan diriku dengan kebaikanmu, Kirishima-kun?”

“Boleh kok.”

“Kalau aku jadi pacar nomor satumu, itu akan cukup berat, tahu?”

“Gak papa.”

“...Kirishima-kun.”

Dia menutup mata dan mengangkat dagunya.

Aku memberikan tubuhku pada Hayasaka-san dan siap untuk menciumnya. Aku ingin melampiaskan semua perasaan yang selama ini ku tahan ke tubuh Hayasaka-san. Aku merasakan panas tubuh Hayasaka-san, suara jantungnya, dan kelembutannya.

Pada momen itu.

Tiba-tiba, pintu kamar terbuka.

Kami saling memandang terkejut. Aku hendak membuat alasan, tapi Tachibana-san yang membuka mulutnya lebih dulu.

“Apa yang kalian lakukan?”

Katanya dengan ekspresi sedikit marah.

“Di sana, itu kasurku.”

Related Posts

Related Posts

1 comment