-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

Seirei Gensouki Volume 17 Bab 5 Part 3 Indonesia

Bab 5
Kelahiran Saint


◇◇◇


Dan beberapa menit kemudian.

Liselotte ditemani Aria sebagai pengawalnya telah melangkah ke ruang tamu kediaman gubernur Amande. Di dalam ruangan, ada Erika yang sudah diantar masuk sebelumnya dan sedang duduk di sofa.

Ketika Liselotte memasuki ruangan dan melihat penampilan Erika, dia berdiri di sana sejenak, terengah-engah. Alasannya——,

(...Dia orang Jepang, ‘kan? Tidak peduli bagaimana aku melihatnya...)

Itu karena Erika memiliki wajah yang jelas seperti orang Jepang. Erika mengenakan gaun seperti pendeta, yang di Jepang akan terlihat seperti cosplay. Di dunia ini, itu adalah desain yang normal untuk seorang pendeta, tapi itu pasti cukup berdampak bagi Liselotte yang memiliki ingatan tentang kehidupan sebelumnya sebagai orang Jepang. Apalagi jika orang itu menyebut dirinya Saint.

(Jadi ini Saint yang dikatakan telah menghancurkan kerajaan.... Jangan bilang dia pahlawan keenam? Aku belum menerima informasi apa pun tentang dia sampai sekarang, tapi.... Yang jelas, bertemu dengannya adalah keputusan yang tepat)

Karena dia sampai repot-repot menghubungiku, dia pasti memiliki sesuatu untuk dibicarakan. Sementara itu, aku mungkin bisa mendapatkan beberapa informasi yang berguna darinya juga. Inilah sebabnya kenapa aku takut mengabaikan bahkan pelanggan pertama tanpa janji temu. Itulah yang dipikirkan Liselotte.

“...Apakah ada salah? Kamu tampak terkejut melihat wajahku.... Kamu adalah Liselotte-san, bukan?”

Erika diam-diam berdiri ketika Liselotte memasuki ruangan dan membungkuk padanya dengan ramah. Dia tersenyum dan kemudian menatap Liselotte dan bertanya ada apa.

“...Tidak, bukan apa-apa. Kamu pasti Saint Erika-sama. Seperti yang kamu katakan, aku adalah Liselotte Cretia, ketua Ricca Guild. Aku juga gubernur kota ini.”

“Salam kenal, namaku Erika. Aku khawatir kamu tidak ingin menemuiku karena gelar Saint terdengar mencurigakan, tapi senang bertemu denganmu.”

Erika dengan bercanda balas memperkenalkan diri, mengatakan bahwa dia biasa dianggap sebagai seorang yang mencurigakan.

“Sebenarnya, alias Saint Erika terdengar familiar bagiku, jadi kupikir aku akan menemuimu. Silakan duduk dulu.”

Mengatakan itu, Liselotte duduk menghadap Erika.

“Yah, itu benar. Kamu mengenalku, ya?”

Erika duduk dan tersenyum senang tampak bahagia.

“Aku mendengar desas-desus beberapa waktu lalu. Ada pemberontakan rakyat di sebuah negara kecil, dan sebuah negara kecil baru lahir. Orang yang memimpin rakyat pada waktu itu adalah Saint Erika, itu saja.”

Apakah kamu Saint Erika itu? Liselotte menatap Erika di depannya dan bertanya secara langsung.

“Wah wah, begitukah? Bahkan di dunia seperti ini, keluarnya informasi ternyata sangat cepat, ya? Aku adalah Erika itu, loh.”

“Oh, begitu...”

Pengakuan itu dibuat dengan begitu mudah dan dengan senyuman sehingga Liselotte berhenti sejenak, terlihat agak tertegun. Kejadian itu tidak menarik banyak perhatian karena yang hancur adalah negara kecil yang tidak penting di perbatasan, tapi tidak disangka dia akan dengan mudah mengakui bahwa dia telah memimpin dalam penghancuran negara. Jika dia mengakuinya, dia akan dianggap sebagai orang yang berbahaya.

“Apakah kamu sedikit waspada setelah tahu bahwa akulah yang memimpin kehancuran kerajaan itu?”

Erica dengan bercanda mengajukan pertanyaan seolah-olah dia bisa melihatnya.

“...Itu benar jika aku menilai sesuatu dengan hanya melihat hasilnya. Namun, karena ada hubungan sebab-akibat antara sesuatu, evaluasi yang tepat tidak dapat dilakukan tanpa mempertimbangkan proses dan hasil.”

Liselotte berpikir sejenak sebelum menjawab.

“Wah, kamu memiliki wawasan yang luar biasa, ya.”

Erika cekikikan dan tersenyum anggun.

“...Tidak. Jadi, kenapa kamu datang menemuiku?”

“Sepertinya kamu tertarik padaku, ya. Aku sangat senang. Dan aku pun sama. Aku tertarik dengan Ricca Guild, sebuah organisasi yang telah terkenal bahkan di negara kami, dan pada dirimu secara pribadi, jadi aku datang ke sini untuk bertemu denganmu.”

“...Jadi, kamu datang menemuiku hanya karena tertarik padaku?”

Liselotte bertanya secara tidak langsung apakah dia tidak ada tujuan lain selain untuk menemuinya.

“Aku tidak hanya ingin bertemu denganmu, loh. Aku ingin merekrutmu.”

“Merekrutku?”

Seakan telah diberitahu sesuatu yang berada di luar imajinasinya, Liselotte bingung dan tanda tanya muncul di atas kepalanya. Lalu——,

“Ya. Aku ingin mengundangmu untuk pindah ke negara kami dan membantu kami mengembangkannya. Sama seperti Anda telah lakukan di sini di Amande.”

Erika mulai membicarakan sesuatu yang terlalu aneh. Liselotte adalah putri Duke Cretia, bangsawan terkemuka Kerajaan Galarc, sekaligus ketua Ricca Guild. Biasanya tidak mungkin meminta seseorang seperti itu untuk pindah ke negara terpencil. Sebaliknya, itu sangat tidak masuk akal sehingga tampak lebih seperti lelucon daripada ajakan. Tapi, dari raut wajah Erika, sepertinya dia tidak sedang bercanda. Karena itu——,

“...Aku adalah bangsawan dari Kerajaan Galarc. Tidak mungkin aku bisa menerima tawaranmu.”

Liselotte menjawab dengan wajah serius.

“Wah, jadi bagaimana agar kamu bisa menerima tawaranku?”

Erika tidak sadar bahwa dia membuat permintaan yang agak tidak masuk akal, dan bertanya tanpa ragu-ragu, dengan asumsi bahwa Liselotte akan datang.

(...Sulit untuk memahami seberapa seriusnya perkataan orang ini, ya. Pada pandangan pertama, dia memiliki senyum ramah, tapi...)

Rasanya seperti berbicara dengan seseorang yang memakai topeng. Kewaspadaan Liselotte terhadap Erika diam-diam semakin kuat oleh fakta bahwa dia secara tak terduga diundang segera setelah bertemu dengannya.

“...Bahkan jika itu adalah kunjungan sementara ke negara yang memiliki hubungan dekat dengan mereka, apakah kamu pikir ada bangsawan yang akan menerima undangan dari negara asing dengan begitu mudah? Pindah ke negara lain seperti meninggalkan negaramu, atau lebih buruk lagi, kau mungkin dianggap berperang melawan negaramu sendiri.”

Liselotte menunjukan ketidaksetujuan dengan nada yang lebih kuat. Permintaan Erika bisa dilihat sebagai ajakan untuk mengkhianati negaranya. Lalu——,

“Jadi negara yang menjadi penghalang, ya? Kamu tidak bisa pindah ke negara lain karena kamu adalah bangsawan Kerajaan Galarc.”

Erika akhirnya memiliki ekspresi cemberut di sini.

“...Bahkan jika aku bukan seorang bangsawan, aku tidak dapat memikirkan alasan apa pun mengapa aku harus pindah ke negaramu. Karena aku menyukai kerajaan ini. Dan sebagai seorang bangsawan, aku bangga menjadi gubernur kota ini.”

“Jadi begitu. Tapi, keluarga raja dan bangsawan yang ada sebagai kelas istimewa memerintah rakyat. Tidakkah menurutmu itulah yang menciptakan rantai kesengsaraan?”

“......Apa yang kamu bicarakan tiba-tiba?”

Pertanyaan Erika lebih dari sedikit terlalu berbahaya untuk dianggap sebagai lelucon hitam. Karena itu, Liselotte mengajukan pertanyaannya seakan dia sedang menyelidiki ekspresi Erika.

(Tln : lelucon hitam berisi satir tentang tabu yang dapat dihindari secara etis (hidup, mati, diskriminasi, prasangka, politik, dll.).)

“Keluarga raja dan bangsawan hanya merusak perkembangan dunia.”

“Aku juga seorang keluarga raja dan bangsawan...”

Liselotte terlihat cukup bermasalah ketika diberitahu ini di depan muka. Dia hampir tercengang.

“Karena itu, aku ingin kamu melepaskan posisimu sebagai bangsawan ketika kamu pindah ke negaraku. Karena tidak ada keluarga raja dan bangsawan di negaraku.”

Erika melanjutkan pembicaraan dengan kesimpulan. Liselotte sering melakukan percakapan dengan orang-orang yang menetapkan kesimpulan mereka sejak awal dan tidak berniat mengubahnya selama percakapan, tapi Erika lebih menonjol di antara mereka.

“Karena itu aku tidak berniat untuk pindah...”

Mungkin karena percakapan itu tidak berjalan dengan baik, nada suara Liselotte lebih kuat saat dia mencoba menyangkalnya. Dan——.

Dengan klik, sebuah suara terdengar di ruangan itu. Suara itu dibuat oleh Aria yang berdiri tepat di belakang Liselotte. Sepertinya dia telah menjatuhkan alat tulisnya.

“Maaf.”

Tidak hanya untuk itu, Aria membungkuk, dia bukan hanya kepala pelayan. Dia sengaja membuat suara tidak terduga untuk mengatur ulang pikiran tuannya, Liselotte. Apakah dia menebaknya——,

(...Terima kasih, Aria)

Liselotte menghela nafas ringan dan berterima kasih kepada Aria dalam hati. Dan——,

“Bukankah kau bilang keluarga raja dan bangsawan hanya merusak perkembangan dunia?”

Dia meluruskan topik. Tampaknya fokus pembicaraan sudah melebar, jadi dia memutuskan untuk mempersempitnya ke salah satu dari mereka.

“Di negara kecil tempatku berada, rakyat telah lama dieksploitasi oleh beberapa anggota keluarga raja dan bangsawan. Tahukah kamu alasannya?”

Erika menanyakan pertanyaan baru.

“......Karena mereka tidak memiliki penguasa yang baik, mungkin.”

Itu tidak salah. Namun, Liselotte tampak muram, mungkin karena dia pikir itu bukan jawaban yang 100% benar. Di sisi lain——,

“Sepertinya kamu paham. Dengan kata lain, sistem monarki berdasarkan status sosial adalah sistem sosial yang sangat tidak sempurna.”

Erika cekikikan puas dan mencoba mengungkapkan jawaban Liselotte secara lebih mendalam. Dan——,

“Kamu harus menghadapinya. Dengan membiarkan kerangka golongan dengan hak istimewa diakui, itu artinya sistem di mana golongan dengan hak istimewa dapat menyalahgunakannya telah tercipta. Selama para penguasa bebas berpolitik, stabilitas mata pencaharian rakyat harus diserahkan kepada kehendak para penguasa. Akibatnya, dunia di mana hanya rakyat yang terus dieksploitasi secara tidak adil akan berlanjut. Ini adalah masalah umum yang ada di banyak kerajaan di dunia ini saat ini. Tidakkah kamu pikir begitu?”

Pertanyaan seperti contoh nyata diajukan kepada Liselotte, seorang bangsawan. Jika Liselotte menjawab bahwa tidak ada salahnya dengan itu, itu bisa dianggap bahwa keluarga raja dan bangsawan bersedia untuk terus bersikap tidak adil terhadap rakyat jelata agar tetap menjadi golongan dengan hak istimewa.

Jika pertanyaan itu diberikan kepada Nidor Proxia, dia mungkin akan menjawab, “Apa salahnya dengan itu?”, tapi——,

“......Meski demikian, aku tidak berpikir itu masalah yang dapat diselesaikan.” kata Liselotte.

“Bukankah itu hanya karena kamu juga tidak ingin melepaskan hak istimewa menjadi seorang keluarga raja dan bangsawan? Kamu berharap bisa memanfaatkan rakyat sebagai batu loncatan untuk menguntungkanmu. Apakah aku salah?”

“...Aku tidak bisa menyangkal bahwa aku telah tumbuh di lingkungan yang baik. Namun, itu tidak berarti aku ingin memanfaatkan rakyat sebagai batu loncatan untuk menguntungkanku. Aku memikirkan rakyatku, dan aku ingin memerintah Amande ini untuk sebisa mungkin mencapai kesetaraan.”

“Memang, Amande ini adalah kota yang luar biasa. Rakyat penuh energi. Namun, alasannya adalah karena ini kota yang diperintah olehmu sebagai gubernur. Andaikan gubernur lain selain kamu memerintah kota ini di masa depan, bisakah kamu yakin bahwa kehidupan rakyat tidak akan memburuk? Bukankah seharusnya kita membangun kerangka kerja institusional untuk mencegah hal itu terjadi?”

Erika terus melontarkan pertanyaan masuk akal berturut-turut. Ini adalah sesuatu yang akan sulit dijawab oleh keluarga raja dan bangsawan dengan nilai-nilai baik.

“...Itu sulit dilakukan, bahkan jika aku mau. Karena itu aku menjawab bahwa aku tidak berpikir itu masalah yang bisa diselesaikan.”

Jawab Lieselotte dengan ekspresi seperti menahan mulut penuh kepahitan. Lalu——,

“Kenapa sulit? Itu mudah, tahu. Cukup berikan hak untuk memutuskan kebijakan kota kepada setiap orang dan diputuskan melalui konsensus. Tidak bisakah kamu melakukan itu?”

Erika memiringkan kepalanya dengan penasaran.

“Sama sekali tidak semudah itu. Jika kita melakukan itu, perkembangan pendidikan rakyat yang tinggal di sana sangat penting. Jika setiap orang tidak mampu membuat keputusan politik sendiri, kelompok itu akan menghancurkan diri sendiri. Atau, mereka yang mengerti ini akan memanfaatkan kebodohan rakyat dan bermain politik untuk kenyamanan mereka sendiri. Jika itu terjadi, golongan dengan hak istimewa baru akan lahir. Ada juga kesulitan memaksakan demokratisasi dari atas, dan bahkan dengan perkembangan pendidikan rakyat yang berjalan, seharusnya sulit untuk sepenuhnya mencegah efek berbahaya seperti itu.”

Bantahan logis dari Liselotte dengan menyebutkan masalah dari ide Erika, yang katanya mudah. Lalu——,

“...Kamu sangat cerdas, ya. Kamu mengerti betul bahwa sifat sejati manusia adalah binatang. Dan tidak peduli sebesar apa masyarakat manusia berkembang, itu tidak akan pernah berubah. Kau memahaminya dengan baik. Itu sangat luar biasa. Benar, itu sebabnya aku...”

Erika terkesan. Kemudian, mungkin karena sesuatu menusuk hatinya, gadis yang berbicara dengan topeng senyum di wajahnya selama ini untuk beberapa alasan memiliki ekspresi pahit. Dia mengertakkan gigi, seakan menunjukkan kebencian yang kuat terhadap sesuatu. Sepertinya ini adalah emosi manusia pertama yang Erika tunjukkan pada Liselotte.

(Tln: Cerdas mengingatkannya pada tunangannya)

“......Apa yang kamu bicarakan?”

Liselotte menatap Erika dengan bingung.

“Maaf. Tidak ada seorang pun di negaraku yang secerdas dirimu. Aku terbawa suasana.”

Erika memakai topeng senyum lagi. Topeng sebagai Saint....

“...Aku hampir bisa memahami dari percakapan tadi kenapa kamu memimpin orang-orang dan membangun sebuah negara,” kata Liselotte sambil menghela nafas untuk menyimpulkan pembicaraan.

“Hoh, bukankah itu hebat? Bisakah kamu coba beri tahu aku tentang hal itu?”

Erika menatap matanya dan bertanya.

“...Demi kebaikan rakyat, bukan begitu?”

Jawab Liselotte dan——,

“Fuh, fufufu. Fuhahahaha.”

Erika tertawa keras.

“...Apanya yang lucu?”

“Tidak, tidak ada. Aku hanya ingin menciptakan dunia di mana yang lemah tidak ada. Sebagai permulaan, aku telah menciptakan demokrasi dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.... Boleh dikatakan, ini adalah balas dendam yang epik.”

“Balas dendam, ya...”

“Ya. Tapi dalam hal ini, menciptakan dunia di mana yang lemah tidak ada mungkin hanya sarana untuk itu. Karena tujuanku adalah membalas dendam.”

“Lagi-lagi aku tidak mengerti apa maksudmu...”

Tepat ketika dia pikir mereka bisa melakukan percakapan yang rasional, malah itu responnya.

Liselotte terlihat sedikit muak.

“Percakapanku denganmu sangat berarti. Itulah sebabnya aku memintamu sekali lagi. Liselotte Cretia-san. Tolong tinggalkan statusmu dan datanglah ke negaraku. Untuk menciptakan negara di mana semua orang diperlakukan sama.”

“...Aku menolak. Aku pikir akan luar biasa jika ada negara di mana semua orang bisa hidup setara. Tapi, aku yakin tidak mungkin menciptakan negara seperti itu. Kamu mengkritik politik keluarga raja dan bangsawan dan mengatakan bahwa kamu akan menyerahkan politik negara kepada rakyat, tetapi bagiku tampaknya ada banyak masalah. Aku pikir yang terbaik adalah tetap seperti ini, setidaknya untuk saat ini. Jika ingin berubah, itu harus bertahap. Aku tetap tidak berpikir kalau menghasut rakyat dan memaksakan reformasi dengan cepat adalah keputusan yang tepat.”

Karena aku yakin itu akan membawa kehancuran——, kata Liselotte dengan lancar dan mengungkapkan niatnya dengan jelas.

“...Jadi kamu tetap menolak?”

“Ya. Sebaliknya, aku tidak mengerti. Kenapa kamu begitu terobsesi denganku sebagai individu...”

Kata Liselotte tampak kebingungan.

“Sejujurnya, awalnya aku menginginkan pengaruh dari Ricca Guild. Namun, ketika aku mendengar nama produk Ricca Guild, aku jadi tertarik dengan orang-orang di dalamnya. Awalnya, aku pikir ada seorang penasihat yang mengembangkan produk dari apa yang kulihat, tapi aku mengetahuinya ketika aku berbicara denganmu. Itu kamu bukan? Yang membuat produk menggunakan istilah bumi.”

Menatakan itu, Erika menatap Liselotte.

“...Tentang apa itu?”

Liselotte memiringkan kepalanya penasaran. Lalu——,

“Kamu tidak perlu bermain bodoh. Tidak, benar. Aku tidak peduli kalau kamu bermain bodoh. Namaku Sakuraba Erika, dan kamu.... Aku ingin tahu apakah namamu mungkin Rikka? Kamu terlihat seperti gadis remaja, tapi berapa umurmu di dalam? Kalau aku menanyakan ini, apakah kamu mengerti?”

Erika menghentikan cara bicaranya yang sopan layaknya Saint dan tiba-tiba berbicara dengan terbata-bata seperti wanita muda seusianya.

“...Pembicaraan yang tiba-tiba, sungguh. Bahasamu juga tiba-tiba berubah. Apakah itu nada suaramu yang sebenarnya?”

Liselotte keheranan, lalu bertanya dengan ekspresi tercengang di wajahnya.

“Aku ingin kamu menjawab pertanyaanku terlebih dahulu, tapi. Tidak, aku ingin. Mulai sekarang, aku akan bicara bukan sebagai Saint Erika, tapi sebagai Sakuraba Erika. Itu jika kamu tidak keberatan nona pelayan di sana itu mendengarnya, sih.”

Kata Erika menatap Aria yang berdiri di belakang Liselotte.

“...Aku mengerti. Jika demikian, yang menemukan produk dari Ricca Guild adalah aku. Aku tidak keberatan bahkan jika itu dengar oleh Aria.”

Setelah Rio untuk pertama kalinya membawa Miharu kepadanya, hanya kepada Aria dia menceritakan tentang kehidupannya yang sebelumnya.

“Hē. Siapa namamu dan berapa umurmu? Rikka-san? Atau Rikka-chan?”

“Aku sudah menjawab satu pertanyaanmu, jadi sekarang tolong jawab pertanyaanku.”

Setelah mengatakan apa yang ingin dia katakan sampai saat ini, Liselotte tidak lagi menahan diri dan bersikeras pada tuntutannya.

“Jadi aturannya adalah harus menjawab pertanyaan satu sama lain satu per satu, ya. Oke deh. Apa yang ingin kamu tanyakan? Hm, ah. Itu tentang nada suaraku, ‘kan? Ini nada suara asliku. Tidak, apa benar ya ini nada suara asliku yang dulu?”

Erika menjawab pertanyaan Liselotte tadi.

“Dulu?”

“Sebelum itu, jawab pertanyaanku. Siapa namamu di kehidupan sebelumnya?”

“...Namaku Minamoto Rikka. Jadi, apa maksudmu dengan dulu?”

“Karena Sakuraba Erika sama saja sudah mati.... Aku sekarang adalah Saint Erika.”

Untuk sesaat, wajah Erika menjadi gelap, tapi dia langsung tersenyum.

“...Sama saja dengan mati?”

“Selanjutnya adalah pertanyaanku. Berapa umur Rikka-chan sebelum meninggal?”

“16 tahun.”

“Ara, kamu masih sangat muda, ya. Kupikir kamu seorang mahasiswa, tapi jika digabungkan dengan kehidupanmu sebelumnya, mungkinkan kamu lebih tua dariku? Tapi, kamu masih terlihat seperti anak kecil, jadi kurasa tidak.”

“Lupakan soal usia. Daripada itu, apa maksudmu dengan sama saja dengan mati?”

Tidak ingin mengembangkan percakapan yang tidak perlu, Liselotte mengajukan pertanyaan berikutnya.

“...Itu karena aku tidak akan pernah bisa bertemu dengan kekasih tercintaku lagi. Orang itu adalah segalanya bagiku, jadi aku tidak punya niat untuk menjalin hubungan dengan orang lain selain dia, dan aku tidak lagi merasa perlu menjadi Sakuraba Erika. Itu sebabnya aku menjadi Saint Erika. Tapi ketika aku berbicara denganmu, aku merasa sedikit nostalgia.”

Teringat kembali hanya untuk saat ini, Erika berkata sedikit sedih. Dan——,

“Selanjutnya aku tanya apa, ya? ... Oh, iya. Di mana kamu tinggal ketika kamu orang Jepang, Rikka-chan?”

“Di distrik Bunkyo, Tokyo.”

“Ahaha, dengan wajah itu, di Bunkyo Tokyo, lucu sekali. Kamu pasti tinggal di tempat yang bagus, ‘kan? Ngomong-ngomong, aku dulu adalah dosen di sebuah universitas di Daerah Shinjuku.”

“Kenapa kamu pikir aku bereinkarnasi?”

“Ada orang yang dipanggil ke dunia lain. Aku hanya berpikir mungkin ada orang yang bereinkarnasi. Aku membaca beberapa novel semacam itu ketika aku di Jepang. Jadi, kenapa kamu mati, Rikka?”

“...Akibat kecelakaan bus.”

Liselotte menjawab pertanyaan itu dengan ekspresi sedikit bingung. Itu karena Erika terus menanyakan hal-hal yang tidak penting.

“Hē, jadi takdir, ya.”

“Sekarang giliranku. ...Kenapa kamu terus menanyakan hal-hal yang tidak penting? Kupikir kamu akan menanyakan sesuatu yang lebih berarti.”

“Tidak ada asalan khusus.... Sebagai Sakuraba Erika, aku hanya tidak bisa memaksakan diriku untuk mengajukan pertanyaan dari Saint Erika. Sudah kubilang aku merasa sedikit nostalgia ketika berbicara denganmu, bukan?”

Erika tersenyum masam seolah mengingat kenyataan yang tidak menyenangkan.

“Begitu, ya...”

Liselotte masih merasa bingung. Kesannya sebagai Saint sangat berbeda sehingga dia merasa seolah-olah dia sedang berhadapan dengan orang yang berbeda.

“Tapi kamu benar, itu semua tidak penting. Mari kita akhiri dengan pertanyaan masing-masing selanjutnya.”

“...Baiklah.”

Masih banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan, tapi dia tidak bisa memaksakannya.

“Kalo gitu, aku duluan.”

“Ya....”

Bertanya-tanya pertanyaan seperti apa yang akan datang, Liselotte menyiapkan dirinya. Dan——,

“Rikka-chan, tidak, Liselotte-chan, apakah ada orang yang kamu suka?”

“...Apa?”

Mau tak mau dia bertanya balik ketika mendapat pertanyaan yang sangat jauh dari imajinasinya.

“Adakah seseorang yang kamu sukai?”

“Apakah itu perlu ditanyakan?”

“Perlu dong. Ini tipikal obrolan gadis, bukan?”

“...Tidak ada.”

“Bohong, tuh. Ada jeda. Itu gak boleh. Kamu harus menjawab dengan jujur. Kalau tidak, aku juga tidak akan bisa menjawab pertanyaan selanjutnya dengan jujur.”

Erika membuat penilaian dengan ketat.

“......Sejujurnya, aku tidak tahu. Karena aku terlalu sibuk bekerja.”

Jawab Liselotte dengan sedikit malu dan sedih.

“Tidak, dari reaksi itu pasti ada seseorang yang menarik perhatianmu, bukan?”

“Ada seseorang yang pertama kali terlintas dalam benakku..., tapi aku tidak bisa membayangkan diriku yang jatuh cinta padanya.”

“...Gitu. Tapi, kalau memang ada, pastikan kamu tidak menyesalinya, ya. Ini adalah saran dari seseorang yang pernah merasakan penyesalan, tahu.”

“Ya...”

“Kalo gitu, selanjutnya giliranmu, Liselotte-chan.”

“Baiklah. Kalau begitu...”

Liselotte mengangguk dan menggerakkan mulutnya untuk mengajukan pertanyaan penting yang telah dia putuskan di kepalanya. Jadinya——,

“Apakah kamu seorang pahlawan? Sejauh yang ku tahu, aku tahu kalau ada lima pahlawan, tetapi tidak ada informasi tentang yang keenam. Karena itu...”

Mungkinkah Erika pahlawan, tanya Liselotte.

“Nn, kamu mau tanya itu?

Erika entah kenapa enggan.

“Apa salahnya? Aku memberimu jawaban yang jujur, jadi kamu harus memberiku jawaban yang jujur juga.”

Dia memiliki firasat kalau Erika mungkin pahlawan, tapi dia ingin memastikannya dari pengakuannya sendiri sehingga dia bisa mendapatkan informasi yang pasti. Itu sebabnya dia menanyakan itu.

“Tapi, aku tidak merekomendasikannya. Itu mungkin akan menjadi masalah.”

“Kurasa aku tidak akan mengetahuinya sampai aku menanyakannya.”

“Benar juga, sih ya.... Kalo gitu, akan kujawab... aku memang pahlawan.”

“Sudah kuduga, ternyata benar.... Jadi, yang membuat itu menjadi masalah...”

Liselotte mendengus puas dan menarik napas, lalu mencoba mendengar balasan Erika. Namun——,

“Ah, aku dalam masalah. Aku masih harus menyembunyikan jati diriku sebagai pahlawan.”

Erika tiba-tiba mulai mengatakan hal-hal seperti itu dengan nada layaknya seorang Saint.

“...Ha?”

Liselotte bingung dengan perubahan mendadak itu. Tak lama setelah itu——,

“Uh!”

Erika hendak meraih Liselotte. Saat dia sadar, Erika sudah berdiri tepat di depannya, dan Liselotte terkejut. Tapi——,

“Apa yang kamu lakukan tiba-tiba?”

Aria berdiri di depan Erika. Dia meraih lengan Erika dalam sekejap dan melemparkan tubuhnya ke jendela dengan cemerlang. Erika jatuh dari mansion setelah menabrak jendela dan membuat suara keras.

“Tung...”

Liselotte kehilangan kata-kata saat melihat adegan itu.

“Aku akan menangkapnya. Para pelayan pengawal seharusnya akan segera datang. Liselotte-sama, di sini saja.”

Setelah mengatakan itu, Aria meraih pedang sihir yang bersandar di sampingnya, menariknya keluar dari sarungnya, dan melompat keluar jendela mengejar Erika.

Ketika Aria melompat keluar jendela dan mendarat di taman mansion——,

“Ah, aku dalam masalah. Aku dalam masalah.”

Erika tanpa goresan sedikit pun, dia membersihkan debu dari gaunnya, terlihat seperti terlalu malas untuk melakukannya.

(Saint itu adalah pahlawan. Seperti Satsuki-sama, aku yakin tubuhnya telah diperkuat dan diperkokoh oleh senjata ilahi. Membunuh seorang pahlawan bisa menjadi masalah, ini merepotkan...)

Aria juga menghela nafas kesulitan. Lalu——,

“Kamu sepertinya bukan sekedar pelayan, ya?”

Erika bertanya pada Aria sambil mewujudkan tongkat emas dari senjata ilahi di tangan kanannya.

“Menanyakan hal yang sudah jelas. Semua pelayan yang melayani Liselotte-sama bukanlah pelayan biasa.”

“Fu-Fufufu. Itu luar biasa.”

Saat dia mengatakan itu, Erika bergegas menuju Aria. Itu adalah kecepatan yang jauh melebihi batas dari apa yang bisa dikeluarkan manusia karena penguatan fisik yang kuat dari senjata ilahi.

Namun, Aria juga memiliki pengutan fisik yang kuat dari pedang sihir. Dia tidak kesulitan mengatasi kecepatan Erika dan bergegas maju untuk mengisi celah itu sendiri.

“uh...”

Erika terbelalak karena terkejut, dan dia membuat gerakan besar ke kanan, mungkin untuk menghindari tabrakan atau untuk menjaga jarak.

Tapi, Aria mengikuti di belakang dan menutup jarak, mengayunkan pedangnya untuk mengenainya pada saat dia menerjang. Sepertinya dia mencoba menggunakan bagian perut pedang untuk melakukan pukulan, mungkin karena dia tidak bisa membunuhnya. Erika dengan cepat memposisikaan tongkat emasnya dan memblokir serangan Aria.

“Itu benar-benar kekuatan yang mengesankan.”

Erika bergumam kagum dan hendak memantulkan Aria lewat serangan itu dengan mendorong tongkat emasnya ke depan sejauh yang dia bisa. Lalu——,

(Uh, sungguh gila kekuatannya...)

Tubuh Aria terdorong jauh. Meskipun dia sudah memperkuat tubuhnya dengan pedang sihir, dia kalah dalam hal kekuatan. Kecepatan gerakannya sendiri tidak terlalu tinggi, tapi sepertinya dia bisa mengeluarkan kekuatan fisik yang sangat besar.

“Karena sepertinya bala bantuan akan datang jika aku terlalu lama. Mari kita selesaikan dengan cepat.”

Mengatakan itu, Erika beralih menyerang. Mengambil keuntungan dari jangkauan tongkat emasnya, dia menyerang secara sepihak dari luar jangkauan pedang Aria.

(...Pahlawan keenam tampaknya memiliki temperamen yang sangat kasar)

Terkadang Aria menghindari serangan, terkadang dia mengayunkan pedangnya untuk menangkis tongkat emas, dan membawa Erika ke jangkauan serangnya. Namun, Erika membanting tongkat emasnya ke tanah sekeras mungkin sebelum Aria bisa menjangkaunya. Segera setelah itu, tanah naik dan menghalangi Aria layaknya dinding bumi.

“......”

Aria tidak mengejar terlalu jauh, tetapi mundur dan menjaga jarak. Dia kembali ke mansion tempat Liselotte berada, mungkin mempertimbangkan fakta bahwa Erika akan mengakalinya dan mengincar Liselotte.

Lalu, dinding tanah yang Erika pasang meledak. Erika sendiri yang menciptakan dinding tanah, mengayunkan tongkat emasnya dan menghancurkan dinding tanah dengan lesu.

Kemudian, Aria dan Erika saling berhadapan lagi.

“...Kamu benar-benar kuat, ya. Aku belum pernah bertemu orang yang sekuat ini. Dunia ini begitu luas...”

Erika mengucapkan kata-kata itu, terdengar sangat terkesan.

“Kekuatan fisik sesaatmu sangat mengesankan, tapi aku bisa melihat kamu tidak pernah menerima pelatihan tempur.”

“Ya, tepat sekali.”

“Sekarang setelah aku memahami kemampuanmu, aku akan segera mengakhirinya.”

“Fufufu. Aku tidak yakin dengan itu?”

Erika tertawa dengan percaya diri atas provokasi Aria.

Lalu, Aria berlari ke arahnya. Erika mengayunkan tongkat emasnya lagi dan meledakkan tanah dari kiri ke kanan dengan gerakan membelah. Gelombang kejut yang mengandung tanah menghantam Aria.

Namun, Aria langsung melihat area efek gelombang kejut dan mundur sejenak ke tempat di mana kekuatan gelombang kejut melemah. Segera setelah itu, saat gelombang kejut mulai melemah, dia berlari lagi dan dengan cepat mendekati Erika.

“uh.”

Reaksi Erica tertunda, mungkin karena penglihatannya terhalang oleh gelombang kejut yang dia lepaskan sendiri. Meski begitu, dia mengangkat tongkat emasnya tinggi-tinggi, mungkin dia ingin meledakkan Aria dengan gelombang kejut lagi. Tapi——,

(Lambat)

Sebelum Erika bisa mengayunkan tongkat emasnya ke bawah, Aria menebas tongkat ini dengan pedangnya dari bawah, membuatnya terayun ke atas. Kemudian, dia langsung menusuk ke dada Erika——,

“Guh...”

Mengirimkan serangan telapak tangan yang kuat ke dada Erika. Itu adalah teknik yang Rio ajarkan padanya secara langsung selama pelatihan pertempurannya di Kastil Kerajaan Galarc tempo hari. Tubuh Erika terlempar dan berguling belasan meter.

Umpan balik dari serangan pasti cukup. Cederanya pasti cukup besar, bahkan setelah tubuhnya diperkuat. Faktanya, dia masih sadar dan mencoba untuk berdiri, tapi dia tampaknya tidak memiliki kekuatan lagi dan merangkak dengan tubuhnya yang gemetar.

(Sudah berakhir. Pertanyaannya adalah bagaimana menangkapnya, tapi kurasa aku akan memberinya satu pukulan lagi untuk membuatnya pingsan)

Itu sedikit kasar, tapi apa boleh buat. Saat Aria memutuskan untuk melakukannya, dia mendekati Erika. Dia meluncurkan tendangan kuat dari bawah dan tepat di atas perut Erika, yang sedang merangkak.

“Gahah...”

Tubuh Erika terlempar sangat tinggi. Dan beberapa detik kemudian, dia jatuh ke tanah mengikuti gravitasi. Dan kali ini, Erika pingsan dan jatuh tersungkur tanpa kekuatan. Lalu——,

“Aria!”

Natalie dan Cosette keluar dari mansion dengan tergesa-gesa. Di tangan mereka, mereka memegang belenggu penyegel sihir.

(Syukurlah aku bisa mengalahkannya dengan cepat. Jika tangannya diikat di belakang punggungnya dengan belenggu itu, dia pasti tidak akan bisa mengamuk)

Aria memutuskan demikian dan mendekati Erika yang telungkup. Dengan tubuhnya yang diperkuat oleh pedang sihir, dia duduk di punggung Erika dan menekannya ke tanah. Pikirnya——,

“Kalian berdua, sementara aku menahannya, belenggu itu, hah!?”

Erika melompat sekuat tenaga dengan Aria di punggungnya seperti push-up. Momentum itu digunakan untuk menerbangkan Aria. Dia pasti sudah terlempar setidaknya sepuluh meter.

(Mustahil. Dia tidak cedera sama sekali!?)

Aria terkejut melihat Erika berdiri dengan gesit saat dia dijepit di bawahnya. Erika mendongak dengan ringan, melakukan kontak mata dengan Aria, dan tersenyum menakutkan——.

Dia mulai berlari sekuat tenaga dan menjauh dari Aria. Dia sedang berlari menuju mansion di depannya.

“uh, Cosette, Natalie, hentikan wanita itu!”

Aria buru-buru menginstruksikan dua rekannya saat dia mengambang dan jatuh di udara, tapi——,

“Apa?”

Sebelum Cosette dan Natalie bisa mendekat, Erika mengayunkan tongkat emasnya sekuat tenaga ke tanah. Gelombang kejut yang diciptakan oleh benturan itu tidak ada bandingannya dalam skala dengan yang telah dia lepaskan di pertempuran sebelumnya. Terdengar suara menderu seolah-olah ledakan besar telah terjadi, dan debu serta asap mengepul di sekitar. Aria yang masih jatuh tidak bisa lagi melihat tanah dari penglihatannya——,

(Liselotte-sama...)

Aria mengalihkan pandangannya bukan ke tanah yang tertutup asap, tapi ke mansion. Lalu, dia melihat Liselotte yang sedang melihat situasinya dari jendela di lantai dua, dan Erika yang berlari ke mansion. Erika melihat sekeliling untuk mencari tahu di mana Liselotte berada.

(Gawat)

Cepatlah, cepatlah, jatuh.

Hanya beberapa detik tapi terasa seperti selamanya bagi Aria. Ketika dia akhirnya mendarat di tanah, dia mulai berlari secepat mungkin menuju mansion.

Asap membuatnya sulit untuk melihat bahkan satu meter di depan, tapi tidak ada waktu untuk khawatir. Berharap para pelayan pengawal akan memberinya waktu, Aria berlari menembus debu secepat mungkin. Akhirnya, penglihatannya menjadi jelas——,

“Jangan, Aria! Mundur!”

Dia mendengar teriakan Liselotte yang familiar. Dan ada sosok Erika yang mungkin sedang menunggu Aria dan yang lainnya, mengayunkan tongkat emasnya hanya beberapa meter jauhnya.

“Oh, begitu. Jadi dia ada di sana.”

Erika menyeringai dan cekikikan saat dia melihat Liselotte bersandar keluar dari jendela lantai dua dan berteriak. Dan pada saat yang sama, dia telah selesai mengayunkan tongkat emasnya——,

“Kuh...”

Penglihatan Aria benar-benar digelapkan oleh gelombang kejut dan debu.

Related Posts

Related Posts

Post a Comment