-->

Cari Blog Ini

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 8 Bab 2 Part 6 Indonesia

Bab 2
Perjalanan Sekolah Sebagaimana Aslinya


6


Sesaat sebelum jam 10 malam. Pintu kamar tamu diketuk dengan pelan dua kali.

Melihat hal itu, Watanabe segera bangkit dari tatami sambil berkata biar aku yang bukakan.

Aku ingin tahu apakah dia mengambil inisiatif itu untuk kami atau untuk dirinya sendiri.

“Maaf membuat kalian menunggu~”

Diiringi suara itu, 4 orang gadis, yang dipimpin oleh Kushida, datang berkunjung dari pintu masuk yang dibukakan oleh Watanabe.

“Si-Silahkan masuk. Lama juga kalian datangnya.”

Mungkin dia gugup dan malu. Watanabe tiba-tiba melambat dan membuka jalan dengan terburu-buru.

“Maaf ya. Aku kelamaan mandinya, jadi terlambat.”

Jawab Kushida, wajahnya memang tampak sedikit merah. Dan pada saat yang sama rambutnya mengkilap.

Tidak setiap hari ada kesempatan bertemu dengan gadis-gadis seperti ini di malam hari, tepat sebelum mereka pergi tidur.

Itulah sebabnya yang tadi itu mungkin pengalaman berharga bagi Watanabe.

Begitu keempat gadis itu memasuki ruangan, aroma yang tak terlukiskan langsung menyebar ke seluruh ruangan.

Bukan berarti tempat kumpul anak laki-laki itu bau, tapi ini seperti ruangan yang berbeda.

“Kenapa aromanya bisa sewangi ini ya...?”

“Entahlah, ini memang misteri.”

Di pemandian umum besar tersedia sebotol besar komersil sampo dan kondisioner yang terbuat dari susu kedelai. Tidak ada yang kukeluhkan, tapi busa yang dihasilkan tidak terlalu bagus dan rasanya seperti produk yang relatif murah.

Biasanya, hal yang sama juga akan disediakan di pemandian umum besar wanita....

Jelas sekali aroma yang tercium dari para wanita ini berbeda dari jenis sampo kedelai yang sama.

Atau apakah mereka membawanya sendiri?

“Hei coba sih tanyain. Kenapa mereka bisa sewangi ini?”

“Maaf, tapi aku tidak bisa menanyakan itu.”

Bahkan aku yang hanya tahu sedikit tentang hal-hal duniawi, memahaminya dengan baik.

Jika aku menanyakan hal seperti itu, itu pasti akan membuat mereka merasa tidak nyaman.

“Waktu mikir aku sedang ada di kamar anak laki-laki, rasanya agak mendebarkan, ya.”

Amikura terlihat tidak nyaman, membisikkan hal itu ke gadis-gadis lain dan melihat sekeliling ruangan.

Meskipun tata letak ruangannya sama, tapi anehnya mungkin terlihat berbeda di mata mereka.

“Setelah diskusi kita selesai, gimana kalau kita pergi ke kamar Honami-chan nanti? Katanya para gadis mau berkumpul sampai sebelum lampu dimatikan.”

“Benarkah? Ya, aku mau saja.”

Tidak seperti Kushida yang langsung setuju tanpa ragu-ragu, Nishino menolak, kelihatannya tidak tertarik.

“Aku enggak deh. Aku juga tidak punya teman dekat di sana.”

Menimpali penolakan itu, Yamamura juga menundukkan kepalanya dan bergumam.

“...Aku juga, enggak...”

“Begitu? Padahal siapa pun itu boleh ikut kok... tapi yah, baiklah.”

Watanabe agak kecewa mengetahui bahwa para gadis akan segera pergi.

Lampu dimatikan pukul 11 malam yang kurasa agak kemalaman, jadi masih ada cukup banyak waktu.

Ini adalah perjalanan sekolah yang ditunggu-tunggu, jadi siapa pun itu pasti ingin lebih leluasa.

(Tln: agak sulit nerjemahinnya. Intinya tidak mau dikekang)

“Jadi begini rasanya menyambut seorang gadis...”

Gumamnya dengan berbisik, Watanabe dimabuk kesenangan.

“Daripada itu, Watanabe. Sebaiknya kau sikapi para gadis itu secepatnya. Ini kesempatanmu untuk membuat kesan positif tentangmu, bukan?”

Kalau hanya mengundang mereka ke dalam kamar, aku, Ryūen atau Kitō pun bisa melakukannya.

Untuk meninggalkan kesan, dia harus melakukan sesuatu yang lebih dari itu.

“Eh? Sikapi? Apanya?”

Sepertinya dia sangat terkesan dengan penampilan para gadis sehingga dia tidak melihat situasinya. Setelah datang ke kamar anak laki-laki yang jauh, para gadis tidak tahu harus duduk di mana.

“Eng... di mana kami harus duduk?”

4 futon telah ditata di kamar bergaya Jepang oleh staf resepsionis dengan sedikit ruang di antara futon, jadi mereka harus bergerak lebih dekat ke tepi ruangan untuk duduk di tatami.

Inilah kesempatan untuk menunjukkan keahlianmu, apakah akan memaksa mereka untuk berdesak-desakan atau mengambil tindakan lain.

“Eh? Bebas mau duduk di mana saja. Mau di atas futon juga aku tidak keberatan, iya ‘kan?”

Kata Watanabe yang sepertinya tidak begitu paham, dia lalu menyingkirkan selimut dari dua set futon untuk menyiapkan tempat untuk duduk.

(Tln: Hmm kesannya eroi)

Para gadis itu tampak sedikit terkejut, tetapi karena tidak ada tempat lain yang cocok, Kushida menunjukkan persetujuannya.

Keempatnya duduk di atas dua set kasur yang dekat dengan pintu masuk.

“Kalau begitu, karena sebentar lagi sudah waktunya mematikan lampu, mari kita mulai. Di mana Ryūen-kun?”

“Di balik shōji.”

(Tln: Shōji = pintu geser)

Dengan membuka shōji yang tertutup, akan terlihat meja kecil, dua single sofa dan kulkas kecil.

Amikura tampaknya takut untuk mendekati shōji, jadi Nishino mewakili teman sekelasnya membuka shōji dengan kuat.

Ryūen sedang bersantai di atas single sofa, sambil mengotak-atik ponselnya.

“Kau dengar, ‘kan? Berkumpul.”

“Aku di sini saja. Sudah cukup kedengeran.”

“Itu mungkin benar, tapi aku ingin kamu ikut kumpul dengan kami semua, ini juga untuk membangun rasa solidaritas dalam grup.”

Tanpa rasa takut, Kushida mendekati Ryūen dan memintanya untuk mendekat.

Mungkin karena ia tidak menyukai sikap Kushida itu, Ryūen tertawa dan mematikan layar ponselnya.

“Kelihatannya kau sangat antusias, tapi kau tahu posisimu, bukan?”

“Apa maksudmu?”

“Persis seperti kataku. Jika kau tidak mengerti, aku bisa membuatmu mengerti, loh?”

Para siswa lain tidak bisa memahami dan menerima makna dari pengancaman ini.

Ucapan Ryūen yang mungkin satu-satunya orang di luar kelas yang paling mengenal Kushida, sangat berat.

“Kau ini ngomong apa sih?”

Mungkin dia hanya menganggapnya sebagai orang yang suka berkelahi, Nishino menutup jarak dari Ryūen.

“Berhentilah mengatakan hal-hal yang menimbulkan pertanyaan, dan cepatlah ke sini.”

Tanpa takut atau gentar, Nishino terlihat siap untuk meraih lengannya dan menariknya kapan saja.

“Nishino. Akhir-akhir ini kau jadi banyak bicara, ya?”

“Sejak awal aku juga sudah seperti ini. Selama ini aku hanya belum terlibat lebih dari yang diperlukan.”

Sekarang dia adalah bagian dari grup, jadi dia tidak punya pilihan, kurang lebih mungkin seperti itu.

Kukira dia akan menolaknya lagi, tapi Ryūen berdiri dengan malas dan melangkah menuju ruangan bergaya Jepang. Kitō menatapnya dan seketika suasana menjadi tegang.

Meski begitu, untuk saat ini, kedelapan orang sudah benar-benar berkumpul dalam satu ruangan untuk berdiskusi.

“Apakah kita semua harus berkumpul di sini? Kita bisa melakukannya dengan ponsel.”

Kitō yang belum mengucapkan sepatah kata pun sejak para gadis tiba, bertanya.

Dia benar, memberitahu semua orang dalam grup dengan aplikasi itu mudah.

“Grup lain juga tampaknya sama, mereka membuat keputusan melalui diskusi tatap muka seperti ini.”

“Heeh, Kushida-chan memang hebat.”

Watanabe memberikan anggukan yang berlebihan, seolah-olah terkesan dengan informasinya, dan duduk di antara aku dan Yamamura.

Mungkin terkejut dengan pendekatan tiba-tiba yang tak terduga dari seorang anak laki-laki, seolah ingin lari dari Watanabe, Yamamura membungkuk dan mundur setengah langkah.

“Ah, maaf Yamamura. Kamu di situ toh.”

“Enggak papa... tidak usah dipikirkan.”

Terlepas dari pertukaran sepele itu, masih ada ketegangan yang kuat dalam pertukaran dengan Ryūen.

“Grup lain ya grup lain. Grup ini memiliki caranya sendiri.”

Kitō mungkin khawatir dengan kehadiran Ryūen.

Aku bisa mengerti kenapa dia khawatir bahwa kami tidak akan bisa melakukan diskusi yang layak.

“Menurutku penting untuk kita saling bertatap muka. Aku juga ingin mendengar apa yang benar-benar kalian inginkan.”

Kushida menjawab bahwa ada banyak hal yang tidak diketahui melalui aplikasi, dan ia tidak menunjukan niat untuk mundur.

Kushida mungkin tidak ingin menginjak ranjau darat Ryūen, tapi ia harus melindungi posisinya sendiri.

Jika wajah publik Kushida memutuskan untuk tidak mundur di sini, diskusi akan berjalan.

“Kalau begitu langsung saja, soal waktu luang mulai besok dan seterusnya———”

“Daripada itu, aku lupa untuk menyepakati satu hal terlebih dahulu.”

Melihat sekeliling ruangan bergaya Jepang dengan futon yang tertata, Ryūen membuka mulutnya.

“Aku tidak mau tidur bersebelahan dengan kalian bajingan, tapi tetap saja, tidak ada gunanya mengeluh dalam ruang terbatas ini. Jadi aku akan tidur di sini.”

Katanya, yang ada didepan mataku adalah futon di ujung yang paling ujung.

Itu adalah posisi yang ideal, di mana jika seseorang terbangun di tengah malam, misalnya untuk ke toilet, dia tidak akan tersandung olehnya.

Benar juga, kami belum memutuskan di mana kami akan tidur.

Tidak, tapi apa ini harus diputuskan sekarang?

Malahan kupikir lebih baik memutuskannya setelah para gadis ini pergi....

Apakah ia hanya tidak bisa membaca suasana, atau ia sengaja mengatakannya sekarang?

Melihat Ryūen yang selama ini, setidaknya bagiku, rasanya itu yang terakhir.

Tapi di sisi lain, bagaimana dengan yang lainnya?

Sepertinya mereka menangkap itu sebagai pernyataan yang jelas-jelas tidak pada tempatnya dan hanya mementingkan diri sendiri.

“Tidak ada yang keberatan, ‘kan?”

Dia melirikku dan Watanabe untuk mengkonfirmasi, dan berkata dengan nada yang sedikit lebih tegas.

“Aku... yah, aku tidak keberatan di mana saja.”

Seperti seekor katak yang menatap ular, Watanabe setuju. Nah, bagaimana aku harus menjawabnya?

Saat aku memikirkan itu, Ryūen sudah mengalihkan pandangannya dariku.

“Oi Kitō. Kalau ada yang ingin kau katakan, jangan ragu untuk mengatakannya, oke?”

Sepertinya dia mengira bahwa satu-satunya orang yang akan menentangnya adalah Kitō.

“Aku tidak setuju.”

Sebagai buktinya dia keberatan.

“Aa?”

Dia bilang jangan ragu, tapi Ryūen memiringkan kepalanya tampak tidak menyukai penolakan itu.

“Aku tidak akan pernah menyetujui metode yang tidak adil. Terlebih lagi, itu bukan sesuatu yang harus kita diskusikan sekarang. Apa kau bahkan tidak tahu itu?”

“Mana kutahu. Tapi aku tidak ingat memberimu hak untuk melarangku seperti itu.”

“Aku bebas untuk bicara entah itu kapan, di mana, atau bagaimana aku mengatakannya.”

Kitō tidak menunjukkan tanda-tanda akan mundur, melainkan siap untuk perang.

“Su-Sudah sudah, tenanglah, Kitō. Kita kasih aja dia tempat untuk tidurnya?”

“Aku menolak.”

“Uh...”

Tatapan tajam membuat Watanabe ketakutan saat ia sedang berdiri hendak menghentikannya.

Berbicara tentang kemarahan dan ketegasan wajah saja, Kitō melampaui Ryūen.

“Aku tidak akan biarkan pria ini berbuat seenaknya.”

“He-hei anak laki-laki. Bukan itu yang kita bicarakan sekarang, nanti...”

Amikura mencoba memperingatkan mereka dengan agak takut, tapi Nishino menarik lengan yukatanya untuk menghentikannya. Ia menggelengkan kepalanya, dalam diam memperingatkannya agar tidak menyela.

“Aku akan mengatakannya berulang kali jika perlu, tapi aku tidak akan menyerahkannya padamu.”

“Jadi kau ingin bertaruh untuk tempat ini? Hah?”

“Mau kekerasan? Aku bisa mengabulkannya, tapi kau akan terbaring di sini selama sisa perjalanan.”

Kushida terlihat gelisah, tapi menatap matanya aku berpikir.

Dia pasti merasa jengkel karena ini menjadi sangat merepotkan sekali.

“Kuku, kalau begitu ayo kita lakukan. Apa kalian juga ingin bertaruh untuk tempat ini?”

“Aku enggak deh... aku tadi sudah bilang kan, aku tidak keberatan di mana saja.”

Secara pribadi, aku lebih suka berada di ujung daripada terjepit, tapi aku juga tidak ingin mendapat masalah.

Entah Ryūen atau Kitō yang menang, mereka tidak akan tidur bersebelahan ketika salah satu dari mereka mengambil ujung. Sebaliknya, kemungkinan besar aku atau Watanabe akan berada di antara mereka sebagai bantalan.

“Aku juga tidak. Bertarunglah dan putuskan sesuka kalian. Tapi kalau kalian berdua menginginkan ujung itu, maka aku dan Watanabe akan mengambil tempat yang kami inginkan dari tiga tempat yang tersisa, oke?”

Jika aku tidak menuntut hak-hak yang pantas kami dapatkan, akan ada perselisihan lagi nanti. Kedua belah pihak memilih futon yang sama sebagai prioritas utama, jadi aku dan Watanabe bebas memilih dari tempat yang tersisa.

“Dan tolong jangan putuskan dengan kekerasan.”

Itulah yang harus paling aku tekankan agar grup 6 tidak menarik perhatian dengan buruk.

Tampaknya sekolah akan tanpa ampun membatasi grup yang menyebabkan masalah. Ya kali di perjalanan sekolah, kami tidak boleh keluar dari ryokan kan mubazir, meskipun seharusnya tidak sampai segitunya.

“Aku lebih suka baku hantam karena lebih mudah dimengerti, tapi kurasa kita memang tidak boleh.”

Untuk saat ini, syukurlah dia mampu menahan diri untuk tidak melakukan tindakan kekerasan.

“Terima kasih Ayanokōji, karena sudah mengatakan apa yang ingin aku katakan.”

“Enggak perlu, yang kukatakan biasa saja kok.”

“Mana ada. Setidaknya, ya itu dia. Kamu boleh tidur di bagian ujung.”

Aku ingin tahu apakah hanya dengan berasal dari kelas Ichinose, pada dasarnya akan membuat mereka menjadi orang baik. Meskipun aku tidak memintanya, ia mengatakan itu dan menyerahkan bagian ujung. Dengan ini, Ryūen atau Kitō dari belakang, dan di sebelahnya Watanabe. Yang ketiga, yang kalah dalam pertandingan. Aku memilih untuk tidur di ujung dekat pintu masuk.

“Aku juga harus menumbuhkan sedikit keberanian.”

Ternyata salah satu alasan dia menyerahkannya padaku adalah untuk tujuan pribadi itu.

Tapi terjepit di antara Ryūen dan Onigashira kupikir cobaan yang terlalu besar untuknya.

“Bicara soal perjalanan sekolah, tidak ada yang lain selain ini, bukan?”

Sebelum aku sadari, sebuah bantal tergenggam di tangan Ryūen.

“Ayo duel. Aku tidak perlu menjelaskan aturannya, ‘kan? Kitō.”

“Tentu saja tidak.”

“Apa? Dengan bantal itu apa yang akan kalian lakukan?”

Aku tidak tahu apa yang menanti di balik perubahan ini, jadi aku memiringkan kepala.

“Yah, bicara soal perjalanan sekolah dan bantal, hanya ada satu hal, bukan?”

Jadi hanya ada satu hal?

Aku sama sekali tidak tahu....

Namun, para siswa selain aku sepertinya mengerti, dan Kushida buru-buru berdiri.

“Ka-Kalau begitu, aku yang akan menjadi wasitnya, ya? Mungkin lebih baik jika ini ada yang mengadilinya.”

Kushida yang kelihatan menyesal berada di tempat yang sulit dipercaya ini, menawarkan diri.

“Bahkan di saat seperti ini kamu sangat tertip ya, Kushida-chan.”

Aku ingin mengetahui kata hatinya, tapi Watanabe serta gadis-gadis lain ada di dekatnya.

Daripada itu, aku lebih tertarik dengan apa yang akan mereka lakukan dengan bantal itu.

“Kamu boleh mulai duluan loh.”

“Lebih baik jangan, kau tidak ingin kalah tanpa satu lemparan pun, ‘kan? Majulah tanpa penyesalan, Ryūen.”

Ryūen tertawa sembari memantul-mantulkan bantal di tangannya.

“Maka tanpa ragu aku akan membunuhmu, Kitō!”

Mengatakan itu, Ryūen melemparkan bantal itu ke arahnya dengan ayunan besar layaknya seperti bola.

Bantal yang berisi sekam gandum menyerang Kitō dengan kecepatan tinggi.

Meskipun ada jarak di antara mereka, kekuatan itu cukup untuk mengalahkannya.

Kitō dengan tenang dan pasti menangkap bantal tersebut.

“Akulah, yang akan membunuhmu———!”

Kali ini, Kitō melemparkan kembali bantal dengan kekuatan yang sebanding dengan ayunannya sendiri.

Ryūen di sisi lain juga menangkap bantal dengan luar biasa dan langsung beralih ke posisi melempar.

“Boleh juga kau, Kitō! Kurasa aku akan bisa sedikit bersenang-senang, oi!”

Sekali lagi, bantal dilemparkan balik.

“Ini...”

“Ini perang bantal. Ayanokōji-kun, kau belum pernah memainkannya? Aku beranggapan semua anak laki-laki pernah memainkannya dalam perjalanan sekolah waktu SD atau SMP, bahkan sekolah luar ruangan juga.”

Baru pertama kali aku mendengarnya. Di kamp pelatihan tahun lalu juga tidak ada yang memainkan perang bantal loh.

“Darkness Ball!”

“Ular mengamuk, habisi dia———!”

(Tln: Njirlah malah chuunibyou)

Mereka mengubah bantal itu menjadi berbagai hal, dari Darkness-lah atau Ular-lah.

“A-Anu, ini perang bantal... ‘kan?”

Pertandingan saling membunuh... tepatnya perang bantal satu lawan satu di mana orang lain tidak boleh ikut campur mendadak.

Gumam Amikura saat ia melihat bantal beterbangan ke kiri dan ke kanan.

Kemudian, pertandingan mematikan itu berkecamuk selama beberapa menit, tidak menunjukkan tanda-tanda akan selesai.

Keduanya tidak mengalami kelelahan fisik, dan nampak seperti pertarungan jangka panjang akan terus berlanjut.

Tapi setelah sampai di sini, aku tahu ada dilema lain selain kedua orang itu.

“Aku ingin tahu apa bantal itu akan baik-baik saja jika mereka terus melemparkannya sekuat itu? Itu sudah cukup terkoyak kan.”

Gumaman santai Kushida menarik perhatian semua orang ke bantal.

Aku tidak perlu menjelaskan pada siapa pun bahwa bantal bukanlah alat untuk dilempar-lemparkan.

Kalau saling melemparnya pelan sih masih oke, tapi tidak mungkin kerusakan belum terjadi pada bantal yang terus dilemparkan dengan serangkaian bola cepat keras dan ditangkap oleh kekuatan lengan yang tak kenal ampun.

“Ngomong-ngomong, bantal siapa itu?”

Mendengar komentar Watanabe, kami langsung memeriksa futon tertata.

Dari keempat futon yang tertata, bantal dari ujung yang diberikan Watanabe padaku telah menghilang.

“...Jadi punyaku.”

Apa yang seharusnya ada di futonku tidak ada.

Tepat saat ini, Kitō baru saja menggenggam bantal itu di tangannya dan memasukan lebih banyak kekuatan kegelapan daripada sebelumnya. Aku tahu betul bahwa bantal itu sedang menjerit.

“Kamu akan bermimpi buruk, jika tidur di atas bantal itu.”

Tidak, sebelum itu, bagian yang menakutkan adalah tak ada jaminan bahwa bantal itu akan mempertahankan bentuknya.

Siapa pun yang menang, kuharap bantal itu kembali tanpa cacat.

“Funnuh!!”

Bantal dengan niat membunuh terkuat yang pernah ada sebelumnya.

Mungkin karena jari-jari Kitō yang tebal mencekram dengan kuat, bantal itu meledak saat lepas dari tangannya.

Kainnya robek dan sekam gandum di dalamnya berserakan di dalam ruangan.

Semua orang terdiam seiring dengan suara sekam gandum yang berhamburan.

Bantal yang harusnya menopang kepalaku dengan lembut, telah berubah hingga tak layak untuk dilihat.

Oh bantal, aku sudah banyak berdoa untukmu, tapi kamu tidak berhasil kembali dengan selamat....

Aku ingin menyampaikan belasungkawaku kepada korban yang tersebar begitu tragis di medan perang.

“Gimana bilangnya ya, anak laki-laki itu benar-benar bo... tidak, murni anak kecil, ya.”

Guman Kushida yang hanya bisa didengar olehku, sekam-sekam gandum yang berserakan pun ikut tenang. Keduanya tampak tidak peduli, dan jari telunjuk mereka sudah menyentuh bantal baru yang ada di dekatnya, tapi kemudian Nishino meninggikan suaranya dengan tegas.

“Hei kalian. Kami juga tidak punya waktu untuk ini, jadi, bisakah kalian mulai lagi itu nanti? Nyusahin.”

Mendengar peringatan itu, Ryūen mengabaikannya dan ingin melanjutkan, tapi Kitō berbeda.

Dia duduk diam di sana dan memilih untuk berhenti sejenak.

Begitu pikirannya yang panas menjadi dingin, dia merasakan kejengkelan di sekelilingnya.

“Bisakah kuanggap itu sebagai kekalahanmu? Kitō.”

“Karena aku dibilang menyusahkan, aku tidak ingin menyusahkan lagi.”

Dia cukup cepat menyerah hingga sulit dibayangkan dari aura yang biasanya dia pancarkan.

Yah, jika kau tahu ujung-ujungnya akan begini, aku harap kalian tidak melakukannya sejak awal.

Setidaknya, pengorbanan bantal yang berhamburan dengan tragis ini bisa dihindari.

(Tln: wkwkw masih belum ikhlas)

“Baiklah... kita selesaikan dulu bersih-bersihnya dan kemudian kita bisa mulai diskusi.”

Dengan kerja sama semua anak laki-laki, kecuali Ryūen, dan semua anak perempuan, kami berhasil mengumpulkan sisa-sisa bantal tanpa menghabiskan banyak waktu.

Aku nanti harus mengambil bantal baru dari orang ryokan. Aku masih bingung apakah aku akan jujur atau berbohong.

Sekam gandum yang berserakan dikumpulkan dan dimasukan dalam kantong plastik bening yang disiapkan di tempat sampah, dan diskusi pun dimulai.

“Untuk aktivitas bebas, kita harus kembali ke ryokan sebelum pukul 19:00, batas akhir waktu makan malam, bukan?”

Pertama-tama, Kushida mulai berbicara untuk grup, sebagaimana mestinya.

“Ya. Jadi ini benar-benar terasa seperti hari bebas.”

Segera setelah itu, Amikura juga mulai menimpali.

“Sepertinya kita bisa naik kereta api atau bus dan pergi ke suatu tempat yang agak jauh... tapi kemana ya? Nishino-san, apa ada tempat yang ingin kamu kunjungi?”

“Kayaknya aku mau bermain ski. Aku belum cukup bermain ski karena baru berlatih, mumpung di Hokkaidō juga.”

“Aku setuju dengan Nishino.”

Aku sudah belajar cara bermain ski, jika aku harus mengakhirnya hanya dalam waktu sekitar setengah hari, itu sayang sekali.

Dalam diam, Kitō juga mengangkat tangannya dengan ringan untuk menyatakan persetujuan.

“Banyak juga yang ingin bermain ski ya. Bagaimana dengan Watanabe-kun dan Yamamura-san?”

“Aku juga tidak keberatan. Kita akan pergi ke pusat kota pada hari ketiga, jadi itu pilihan yang aman, ‘kan?”

“Aku, di mana saja boleh.”

Yamamura masih belum bisa bermain ski dengan baik, tapi ia tidak tampak enggan. Aku ingin tahu apakah ia hanya menyesuaikan diri dengan lingkungannya, atau apakah ia hanya ingin lebih mahir dalam bermain ski.

Tapi aku tidak terlalu bisa melihat emosinya yang terkait itu.

“Bagaimana denganmu, Mako-chan?”

“Uuun. Aku tidak pandai bermain ski, jadi aku tidak begitu senang. Tapi jika kalian ingin bermain ski, aku tidak keberatan. Karena ini sebuah grup.”

Katanya, menunjukkan kesediaan untuk menyerah sepenuhnya.

Kushida tidak menanggapi dengan pendapatnya, tapi melihat Ryūen yang sedang duduk di single sofa.

“Bagaimana denganmu, Ryūen-kun?”

“Terserah kalian.”

Dia tampaknya tidak memiliki bantahan khusus dan dengan mudah melepaskan haknya untuk bicara.

Ada perasaan lega dalam grup mengetahui Ryūen, yang paling merepotkan, telah membuat keputusan itu. Lebih baik berasumsi bahwa Ryūen juga bertujuan untuk menikmati bermain ski daripada tidak tertarik untuk pergi ke mana pun.

Related Posts

Related Posts

2 comments