-->

Cari Blog Ini

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 8 Bab 3 Part 6 Indonesia

Bab 3
Perjalanan Sekolah Hari Ke-2


6


Setelah sekitar 1 jam menikmati pemandian umum dan mengenakan yukata, aku dan Sudō mengambil sebotol air mineral gratis dari kulkas di ruang ganti dan menenggaknya sambil meletakkan tangan di pinggul kami. Air dingin mengalir ke dalam tubuh yang terbakar.

“Keh———aku... sudah siap, Ayanokōji.”

“Jadi sudah waktunya.”

Wajahnya agak merah, mungkin karena kepanasan setelah mandi air panas lama. Atau mungkin karena dia gugup membayangkan apa yang akan terjadi nanti. Itu artinya inilah waktunya untuk menyampaikan kembali perasaannya kepada Horikita. Sudō meminum setengah air yang tersisa dalam sekali teguk.

“Puhah! Ayo kita pergi!”

Dia menampar kedua pipinya seolah-olah dia akan tampil ke pertandingan basket.

“Jadi? Bagaimana rencanamu?”

Kini tepat lewat jam 9.30 malam. Ia mungkin belum tidur, tapi kebanyakan siswa mungkin sedang bersantai di kamar mereka bersama teman-teman mereka saat ini. Aku tidak bisa membayangkan dirinya yang bersenang-senang atau membuat keributan bersama, tapi aku tidak akan terkejut jika Horikita memandangi mereka dengan hangat.

“Pokoknya, begini.... Aku akan coba meneleponnya dengan ponsel dulu.”

Sambil menggenggam ponselnya, dia pun berjalan melewati tirai noren dan meninggalkan pemandian pria... dan langsung meneleponnya.

“...Oh, ah, ini aku. Di mana kamu sekarang?”

Tidak perlu banyak panggilan telepon baginya untuk menjawab panggilan itu, jadi dia bertanya dengan panik.

“Di lobi? Kalau begitu, bisa tunggu di sana sebentar. Um, aku akan segera ke sana.”

Sudō terengah-engah setelah menutup telepon dan menatapku sambil berjalan pergi.

“Kau tahu ada bagian yang menjual oleh-oleh kecil di lobi ryokan, bukan? Di situlah dia berada.”

“Jangan mengaku begitu kamu bertemu dengannya, loh? Di lobi, kau akan dilihat oleh orang-orang. Horikita juga tidak akan menyukainya.”

“A-Aku tahu kok.”

Pengakuan adalah peristiwa besar yang harus mempertimbangkan tidak hanya orang yang membuat pengakuan, tapi juga orang yang menerimanya.

“Tapi di mana aku harus mengaku...”

“Di koridor menuju halaman belakang, kukira tidak akan ada orang yang datang ke sana di jam segini?”

Ada dek kayu kecil untuk menikmati pemandangan lewat tangga yang mengarah ke atas dari halaman belakang ke tempat yang lebih tinggi.

Tapi, tempat ini seharusnya kurang populer setelah jam 9 malam, karena kami tidak diperbolehkan keluar ke halaman belakang itu.

“Sepuhnya kau emang, Ayanokōji, dan teman yang baik.”

Nice, ia mengacungkan jempol dan tersenyum. Tapi senyumnya itu kaku dan gugup.

Sudō yang tampak gelisah, tiba di lobi dengan cepat, Horikita sepertinya sedang berhenti melihat oleh-oleh dan menunggu di dekat sana. Aku, di sisi lain, menjaga jarak dan berhenti di titik buta.

Di lobi, seorang karyawan dan beberapa siswa sedang melihat-lihat oleh-oleh atau duduk di kursi sambil mengobrol, jadi sekali lagi ini menunjukkan bahwa itu bukan tempat yang baik untuk pengakuan.

Entah bagaimana, dengan beberapa gestur, Sudō tampaknya berhasil memanggil Horikita ke koridor yang mengarah ke halaman belakang, dan mereka berjalan ke arah itu berdampingan.

Sesungguhnya, mungkin lebih baik untukku berhenti mengejar mereka di sini, tapi diomeli Sudō itu juga akan merepotkan. Aku mengikuti mereka untuk menyaksikan sosok heroiknya sambil menekan suara langkah kakiku sebisa mungkin.

Tak lama kemudian, tidak ada tanda-tanda orang di sekitar seperti dugaanku, dan aku berhenti di tengah koridor yang kosong.

“Ada apa?”

Horikita berbalik ke belakang dan bertanya-tanya. Rambutnya berkilau dan mengkilap sampai-sampai itu masih terlihat bahkan dalam pencahayaan yang redup, mungkin dia baru selesai mandi sama seperti kami tadi.

“Di sini saja.”

Sudō yang biasanya bersikap gagah pun suaranya mengecil karena gugup berada di depan gadis yang dia sukai.

Pada malam hari, di ryokan hanya terdengar BGM yang lembut dan damai serta obrolan yang tenang, jadi suara keras yang tidak terduga harus dihindari, bahkan di tempat yang tidak populer. Jadi itu masih bisa dibilang pas.

(Tln: Maksudnya volume suaranya Sudō pas)

“Aku... um...”

Horikita memiringkan kepalanya karena penasaran pada sikap Sudō yang kesulitan berbicara.

Aku tidak melihat adanya sikap jengkel atau tidak sabar pada diri Horikita saat ini.

Hal ini mungkin juga menunjukkan kepercayaan di antara keduanya yang telah dibangun oleh Horikita dan Sudō.

Jika itu Horikita pas pertama kali mereka bertemu, dia pasti akan langsung minta ke intinya tanpa banyak basa-basi.

Di sini ponselku bergetar.

Meskipun sudah dalam mode senyap, namun masih bisa terdengar dalam keheningan ini.

Oleh karena itu, aku langsung mematikan dayanya tanpa melihat layar.

Adakah yang menyadarinya———sepertinya tidak. Aku masih bisa lega.

“Hei Suzune. Apakah aku... sudah berubah?”

Kupikir ia akan langsung membuat pengakuan, tapi Sudō bertanya ingin tahu.

“Seberapa besar perbedaan antara saat aku pertama kali bertemu denganmu dan aku yang sekarang... aku ingin tahu.”

“Kau masih khawatir dengan pendapat orang-orang di sekitarmu?”

“Itu juga termasuk.”

Ini adalah penghubung sampai keberanian untuk mengaku di depan orang yang bersangkutan terbangun.

Dan pada saat yang sama, tampaknya Sudō sendiri masih tetap dalam keadaan sadar.

“Yah. Secara objektif, kamu sudah banyak berubah lebih dari siapa pun. Bukan menjadi lebih buruk, tetapi menjadi lebih baik. Aku sudah mengawasimu dari dekat untuk waktu yang lama, jadi aku bisa menjamin hal itu.”

Itu adalah pendapat asli Horikita.

Tidak, bukan hanya Horikita, itu adalah pendapat yang senada dengan kebanyakan orang yang tinggal di sekolah ini.

“Be-Begitu ya.”

“Tapi jangan berpuas diri. Terus terang saja, kamu memulainya dalam keadaan yang lebih negatif daripada yang lain. Hanya karena kamu telah mengumpulkan hal-hal positif sejak saat itu, jangan berpikir itu membuatmu menjadi orang yang lebih berprestasi dengan mudah.”

Orang-orang di sekitar teralihkan dari dampak besar yang disebabkan oleh nilai negatifnya dan memberikan penilaian tinggi padanya.

Namun, seperti yang dikatakan Horikita, akumulasi nilai negatif itu belum hilang.

“Itu benar. Tidak, aku sungguh-sungguh berpikir itu benar.”

Kata-kata tajam itu membuat Sudō tertekan, tapi dia mengauinya dan menganggukkan kepalanya.

“Sungguh memalukan. Kebodohanku selama ini.”

Keterlambatan dan ketidakhadiran, ujian tertulis di urutan terendah di kelas, ucapan yang kasar dan mudah melakukan kekerasan.

Tidak peduli berapa kali ia menengok ke belakang, masa lalu tidak akan pernah berubah, dan jalan yang ia tempuh sangat memalukan.

“Kau memiliki hati yang teguh dan rendah hati ya.”

Mengangguk, dan kemudian Horikita dengan lembut menyipitkan mata padanya dan tersenyum.

Horikita sendiri mungkin tidak menyadarinya, tapi ia juga telah banyak berubah.

Dan besarnya perubahan itu tidak akan sebanding dengan perubahan Sudō.

“Kau sudah tidak lagi menyakiti atau menyusahkan orang lain tanpa alasan. Jadi tidak usah khawatir.”

Tampaknya Horikita menafsirkan ini sebagai Sudō meminta nasihatnya karena ragu akan pertumbuhan dan masa lalunya sendiri. Itu pasti sudah disadari oleh Sudō, karena dia menggelengkan kepalanya dengan panik.

“Bu-Bukan seperti itu loh, Suzune.”

“Bukan?”

“Aku... aku...”

Mungkin dia mengingat apa yang telah dia katakan padaku, Sudō mengulurkan tangan kanannya.

Tapi kalimatnya tidak mengikuti tindakannya, hanya tangan yang terulur yang tetap berada di depannya.

“Apa? Apa maksud———”

Horikita yang tidak mengerti ingin mempertanyakan maksud dari tangan kanan ini, saat itulah.

“Aku menyukaimu! Jadilah pacarku!”

Dia mampu membebaskan dirinya dari rasa malu karena menahan tenggorokannya dan mengucapkannya dengan jelas.

Suaranya keras... tapi aku akan berpura-pura tidak mendengar itu.

Jika seseorang kebetulan mendengarnya, aku bisa mendeteksi dan menghalanginya.

“Eh———”

Horikita yang tak mengira bahwa dia akan mengaku padanya, membeku karena terkejut.

“Jika kau mau menerimaku, aku ingin kau menjabat tangan kananku ini kembali!”

“Tunggu sebentar... apa itu, serius...?”

Horikita hendak bertanya balik, tapi segera menarik kembali kata-katanya.

Dia tahu bahwa tidak sopan untuk mengatakan, ini pasti semacam lelucon, ‘kan? karena ia bisa merasakan antusiasme, semangat dan perasaan Sudō itu memang tulus.

Horikita menutup bibirnya sambil menatap tangan kanan Sudō.

Kukira dia akan langsung menjawab, tapi Horikita menatap tangan kanannya dan terdiam.

Semakin lama keheningan itu berlangsung, detak jantung Sudō yang sudah mengaku pasti semakin tinggi.

Itu jelas bukanlah waktu yang menyenangkan, tapi waktu yang menyakitkan.

Namun, Horikita juga harus diberi waktu sebanyak mungkin untuk memikirkannya.

Pengakuan itu bukan hanya tentang perasaan dari salah satu pihak.

Akhirnya, Horikita telah memantabkan hatinya, jadi dia mulai bicara perlahan sambil memilih kata-katanya.

“Aku tidak pernah sekalipun mengira bahwa diriku akan menjadi orang yang menerima pengakuan dari seseorang.”

Horikita menerima perasaan Sudō yang membara, bagaimana dia akan membalasnya?

Diterima atau ditolak?

Atau adakah pilihan lain, seperti menundanya?

Saat keheningan diperpanjang, sedikit demi sedikit lengan kanan Sudō tampak mulai gemetar.

Bukan karena lengannya mati rasa, tapi ketegangan dan ketakutan.

Frustrasi karena tidak kunjung menerima tanggapan, apakah akan diterima atau tidak.

Meski begitu, Sudō terus menundukkan kepalanya, percaya kalau tangan yang telah ia ulurkan akan dibalas.

“Sudō-kun. Terima kasih telah menyukai seseorang sepertiku.”

Dia mengucapkan rasa terima kasih.

Namun, Horikita tidak pernah menunjukkan gestur seperti akan menjabat tangan kanan itu kembali.

“Tapi, aku minta maaf. Aku... tidak bisa membalas perasaanmu.”

Itulah kesimpulan yang dipertimbangkan dan ditarik oleh Horikita.

“Be-Begitu ya... kalau tidak keberatan, bolehkah aku tahu... alasannya?”

Tidak dapat mengangkat wajahnya, Sudō berkata dengan tangan kanannya yang menjadi kaku.

“Alasan... yah. Bukannya Sudō-kun tidak cukup baik untukku———”

Dia menghentikan ucapannya sejenak.

“Sejujurnya, aku belum pernah jatuh cinta dengan orang lain. Aku tak memiliki perasaan itu sekarang, aku pun tidak tahu seperti apa rasanya. Kupikir, kalau aku berpacaran dengan Sudō-kun yang bilang menyukaiku, bisa saja ada kemungkinan aku akan jatuh cinta padamu seiring waktu. Tapi... mungkin aku sedang menunggu saat ketika aku akan jatuh cinta pada seseorang karena dorongan hati, bukan karena pemicu seperti itu.”

Kata Horikita pada Sudō seolah untuk menegaskan perasaannya.

Itulah alasan dia menolaknya.

Keinginan untuk terus menantikan cinta pertamanya.

Aku yakin itu adalah perasaan tersembunyinya yang tidak ingin dia bagikan pada orang asing.

“Begitu ya... terima kasih. Sudah memberitahuku.”

Mungkin karena hal itu ia sampaikan dengan begitu tegas, Sudō tidak mengatakan hal lain lagi.

“Keberanian,  dan perasaanmu. Aku bisa merasakannya dengan sangat kuat.”

Mengatakan itu, Horikita buru-buru meraih tangan kanannya, yang hampir ia turunkan dengan lemas.

“Aku telah menerima baik-baik perasaanmu. Terima kasih karena sudah menyukaiku.”

Tangan kanan Sudō yang gemetar menceritakan semuanya.

Aku putuskan sudah waktunya untuk pergi. Untuk menunggunya kembali setelah menenangkan hatinya, aku akan mencari-cari di bagian oleh-oleh.

Related Posts

Related Posts

2 comments

  1. Cakep banget Horikita. Asli.
    Btw buat Sudo. GGWP. Kalo masih punya niatan kuat harus sabar nungguin Horikita. Kalo emang ga bisa yaudah. Gas aja sama Onodera. Muehehe~

    ReplyDelete