-->

Cari Blog Ini

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 9.5 Bab 2 Part 1 Indonesia

Bab 2

Sedikit Firasat


1


Pada hari yang sama, pukul 09.55 pagi, aku tiba di Keyaki Mall.

Di pintu masuk yang paling dekat dengan asrama, sudah ada tujuh siswa yang menunggu mal di buka.

Ada 5 perempuan dan 2 laki-laki. Di antara mereka, satu grup 3 perempuan dan satu grup 2 perempuan. Tak ada tanda-tanda mereka seperti akan pergi ke medan perang, karena mereka sedang asyik mengobrol.

Di sisi lain, anak laki-lakinya beda tahun ajaran, ada yang dari tahun pertama dan dari tahun tiga, waktu aku lihat ke belakang, tidak ada tanda-tanda yang mendekat, mereka sibuk memainkan ponselnya. Sepertinya mereka datang ke sini sendiri-sendiri.

Mungkin ada di antara mereka yang ingin pergi ke toko ritel elektronik, tapi aku sangat tidak yakin mereka sedang mengincar mesin pembuat yogurt.

Seorang anak laki-laki tahun pertama terlihat agak gemuk, memakai kacamata, dan memegang ponselnya horizontal. Selain itu, ia sibuk menggeser atau mengetuk layar ponselnya dengan jarinya, jadi kemungkinan besar dia sedang bermain aplikasi game.

Jika benar begitu, kemungkinan besar dia termasuk dalam kelompok yang tertarik dengan konsol game dan software game.

Tapi———.

Aku merasakan satu hal yang aneh.

Kenapa tidak ada teman sekelasku?

Aku mengeluarkan ponsel dan membuka grup chat yang sempat ramai kemarin.

Dalam chat tersebut, tidak sedikit yang, baik laki-laki maupun perempuan, dengan tegas menyatakan bahwa mereka besok akan pergi ke toko ritel elektronik untuk membeli barang yang mereka incar.

Di sana ada juga pesan dari Hondƍ yang senang sekali ketika dia melihat iklan yang menampilkan barang yang selama ini dia inginkan.

Barang itu tidak ada hubungannya denganku, tetapi tampaknya tingkat peminatnya tidak rendah.

Banyak yang ragu apakah mereka dapat membeli barang tersebut meski mereka langsung masuk begitu mal dibuka, bahkan ada yang membulatkan tekad agar dirinya jangan sampai bangun kesiangan.

Waktu di ponselku menunjukkan pukul 09.56.

Waktu di bukanya mal makin dekat. Tapi aku tidak melihat sosok Hondƍ, dan aku juga tidak melihat siswa yang seangkatan denganku.

Dilihat dari jalannya chat, seharusnya ada beberapa orang di sini.

“...Apa artinya ini?”

Keanehan ketika siswa yang seharusnya hadir tidak ada.

Dari tujuh orang yang berada di sini, tidak ada satu pun yang tampak gelisah atau tidak tenang.

Bukankah umumnya mereka harus berdiri di dekat pintu masuk dan siap untuk berebut barang?

Memangnya mereka bisa membeli barang yang mereka inginkan sambil bermain game dengan santai?

Aku merasakan gelisah, jadi aku memutuskan untuk mengumpulkan keberanian dan memeriksanya.

Untungnya, yang asyik bermain game adalah kƍhai.

“Boleh aku tanya sebentar?”

“...Ya?”

Siswa tahun pertama mengangkat wajahnya terlihat agak kesal, ternyata dia memang sedang main game.

Mungkin dia menekan tombol stop, karena layarnya mati.

Aku langsung dapat merasakan suasana bahwa dia tidak senang ketika ia diajak bicara oleh senpainya, tapi aku juga tidak punya pilihan lain untuk memeriksanya.

“Untuk apa kamu pergi ke Keyaki Mall?”

“Ha? Apa ini, kamu sedang menirukan acara televisi ya...? Aku tidak paham maksudnya.”

“...Eh?”

Aku berniat untuk mengajaknya bicara secara alami agar tidak membuatnya takut, tapi kewaspadaan kƍhai tersebut meningkat sekitar tiga kali lipat.

Tapi tidak ada waktu yang tersisa untuk bertele-tele, jadi terpaksa aku langsung ke intinya.

“Hari ini, aku datang ke sini untuk melihat penjualan di toko ritel elektronik. Sepertinya konsol game juga dijual dengan harga murah.”

Aku coba untuk menekankan bagian tentang game sebisa mungkin agar dia mengerti.

Kemudian, dia menunjukkan reaksi yang sepertinya dia mengerti setelah nyeletuk, aah.

Namun———.

“Meskipun mereka menyebutnya sebagai hardware konsol game terbaru, itu sebenarnya adalah versi yang kurang populer dengan tipe LCD yang sudah usang dan kontroler yang mudah rusak. Meski disebut obral besar-besaran, itu cuman untuk ngabisin stok. Bahkan game-gamenya sendiri itu edisi lama yang kurang populer dan dijual dengan diskon 20-30% dari harga reguler. Selain itu, aku lebih suka membeli versi unduhan.”

“......”


———Rupanya begitu.


Aku bisa mengerti apa yang kƍhai ini katakan, tapi aku tidak bisa memahaminya.

Satu hal yang pasti, dia sama sekali tidak tertarik dengan penjualan tersebut.

“Hari ini adalah tanggal rilis manga yang aku tunggu, jadi aku hanya pergi ke toko buku. Ah, kamu penasaran kenapa aku yang lebih suka mengunduh game malah membeli buku fisik daripada buku elektronik?”

“Eh, nggak...”

“Memang benar dalam bentuk elektronik, kamu bisa membelinya tepat di hari perilisannya, dan kenyamanan karena bisa melihatnya kapan saja di ponsel atau tablet itu sangat menarik, ‘kan? Tapi secara pribadi, aku suka rasanya memegang buku fisik. Bisa dibilang aku adalah tipe orang yang ingin selamanya menyimpan manga dan novel dalam format kertas. Tapi seperti yang kukatakan, ini hanya berlaku untuk manga dan novel, untuk hal lain, aku tidak begitu keberatan dengan buku elektronik. Misalnya, buku yang berisi produk Best Buy selama satu tahun atau koleksi foto. Buat hal-hal seperti itu, aku bisa menerimanya. Yah, sampai SMP, yang begituan masih pakai kertas sih. Sejak masuk sekolah ini, aku semakin sering menggunakan ponsel dan tablet, jadi ini adalah masa transisi. Ah, bentar lagi waktunya, sudah ya? Aku ingin main serius buat event game ini soalnya.”

Aku berusaha untuk mendengarkannya dengan baik, tapi sekitar 20% informasi itu telah hilang dari ingatanku.

Karena pengucapannya berantakan, aku merasa otakku menolak untuk mengingat hal tersebut.

Setelah kƍhai itu selesai membicarakan sesuatu yang sama sekali tidak kutanyakan, ia langsung kembali memainkan ponselnya.

Perhatiannya sudah terlahikan dari diriku.

Waktu menunjukkan pukul 9:58.

Sekarang ini seharusnya aku sudah melihat wajah-wajah yang kukenal dan para siswa yang berburu diskon.

Jangan-jangan diskon besar-besaran ini ternyata sepi peminatnya?

Seperti yang dikatakan oleh kƍhai ini, mungkin obral besar-besaran ini hanya untuk menghabiskan stok.

Tapi, kudengar tahun lalu itu sukses besar, dan setidaknya dari reaksi Hondƍ dan teman-teman sekelas, kelihatannya mereka sangat antusias.

Jangan bilang aku salah mengira tanggalnya.

Di chat katanya [besok], tapi apa mungkin itu salah?

Atau mungkin besoknya hari ini, soalnya chat itu dilakukan menjelang pergantian hari. Aku mulai berpikir seperti itu.

Aku segera mengambil ponselku dan mengakses iklan daring lagi.

“...Hari ini.” 

Perkiraan salah hari langsung hilang.

Meski waktu pembukaan mall semakin dekat, tidak ada siswa yang berkumpul.

Apa yang terjadi...?

Yah, tidak usah dipikirkan lagi. 

Setelah mal buka, aku akan langsung pergi ke toko ritel elektronik dan membeli pembuat yogurt. 

Nggak ada masalah, kan.

“Oh iya, ngomong-ngomong, tadi aku dikirimin foto sama YĆ«ko, katanya, antrian di pintu masuk utara sangat  panjang. Lihat deh, ini.”

“Buset. Aku juga tahun lalu ngalamin. Tapi aku tidak bisa mendapatkan barang yang kuinginkan karena stoknya habis. Loh, tapi kenapa dari pintu masuk utara?”

“Tahu kan tahun lalu, ada anak yang terluka waktu lari pas mal-nya di buka? Yang dari kelas B.” 

“Ah, iya, ingat-ingat, tapi semua orang terburu-buru, jadi mereka mengabaikannya, kasihan banget ya.”

“Iya benar. Jadi mulai tahun ini, semua orang akan dikumpulkan di pintu masuk utara, dan petugas akan mengarahkan mereka.”

Kenyataan yang ingin kudengar tapi juga tidak ingin kudengar, mencapai telingaku.

Di saat yang sama aku mengetahui kebenarannya, dengan kejamnya Keyaki Mall sudah pukul 10 pagi.

Related Posts

Related Posts

Post a Comment